Tampilkan postingan dengan label love talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love talk. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2019

Sajak Rindu untuk Jogjakarta.

Remang-remang kota Jogjakarta semakin terasa indah kala pertokoan angkringan mulai membuka lapak-lapak tendanya. Mereka yang sibuk memasang pasaknya, mereka yang lupa akan waktunya, mereka yang terlalu bahagia untuk meninggalkan kota Jogjakarta—Malioboro berhasil mencampur adukkan semua rasa yang semua orang miliki menjadi satu.
Seperti dua sosok yang tengah berjalan dengan jemari mereka yang saling menautkan diri, mereka pun tak kalah serupa dengan mereka yang menenggelamkan diri dalam eloknya remang-remang kota Jogjakarta kala malam. Syahdu rasanya, mendengar sepasang yang tengah jatuh cinta, saling bercakap dengan cara yang tak biasa. Mungkin mereka pun sama dengan pasangan yang lainnya, yang pada akhirnya memiliki keharusan untuk meninggalkan satu sama lainnya. Pun cinta yang dipersatukan oleh suatu kota, kini harus merenggangkan jaraknya.
Masih terngiang kala lelaki itu mendekap manekin kecilnya, begitu ia menyebut perempuan kebanggaanya itu. Tak urung ia mendekap dan terus mendekap hingga Sang Manekin sesak kehabisan nafas, Sang Lelaki tergelak. “Eh, jangan nakal-nakal ya di kota orang.” Sang Lelaki mulai angkat bicara. “Badan kecil kaya manekin di toko baju anak-anak gini, gak akan mungkin ada yang percaya kalo kamu bilang kamu ini mahasiswa.”
Sang Manekin mendengus. “Kecil-kecil gini juga bisa bikin orang jatuh cinta.”
“Pake apaan?” Nada itu menantang.
“Pake kata-kata puitis yang bisa bikin hati orang meleleh. Trus mereka bakal mempertanyakan deh, ini beneran anak kecil atau jenius sajak yang lagi pura-pura jadi anak kecil ya?” Sejurus kemudian lelaki itu kembali mendekap manekin kecilnya hingga kehabisan nafas.
Dan ia kembali tergelak. “Mana ada yang kaya gitu di sana.” Lalu ia terdiam, membiarkan sayup-sayup para penjual asongan di sepanjang jalan Malioboro yang tengah mereka lalui itu memanggil-manggil mereka untuk sekedar membeli barangnya. “Tapi, cil, aku serius nih. Di sana jangan lupa bahagia ya?” Lelaki itu kemudian menoleh ke arah manekin kecil kesayangannya, seraya tersenyum dan kembali menautkan tangan yang sempat terpisahkan.
Dan mereka pun kembali terdiam, tenggelam dalam arus rindu yang mungkin saja sedetik dua detik kemudian akan membuat isi kepala mereka kalang kabut ketakutan. Walau kedua jasad itu masih menautkan jemarinya, namun kedua pikiran itu melayang entah kemana. Mungkin salah satu mereka tenggelam dalam pemikiran tentang kesendiriannya di kota tempat mereka pertama kali mengadu cinta. Mungkin yang lainnya tenggelam dalam pemikiran akan tempat baru nan jauh di sana dimana ia harus merelakan jauh cinta lamanya. Namun tak pernah ada yang tahu pasti, apa yang kedua manusia itu pikirkan.
Dan kala langit malam semakin pekat, kala manusia semakin menumpuk, kala ketakutan semakin menjadi—rindu mereka menari di bawah langit Malioboro malam hari.
×××××
Dan kerlip kota yang setengah pulas
Mengingatkanku padamu,
Engkau yang tersenyum, membeku dalam lalu.” — 12.08.16
Perempuan itu terduduk dan termangu di ujung balkon lantai tiga tempat indekosnya. Kerlip malam kota Denpasar memang cantik, terlebih jika ditemani secangkir teh hangat dan jurnal berisi berlembar-lembar sajak rancu hasil hari-harinya merindu. Namun entah mengapa, semakin lama ia berpikir semakin kosong pula otaknya itu. Setelah beberapa bulan lamanya berpisah dari sosok kekasihnya, ia lupa bagaimana caranya menulis dengan baik dan benar. Tangannya selalu kelu ketika jemari itu menyentuh secarik kertas dan sebatang pensil tumpul.
Kosong. Nol.  Nihil.
Perempuan itu hampir saja frustasi ketika sajak terakhirnya itu ia baca berulang-ulang dalam hati tanpa ia dapat menciptakan yang baru. Bali gak kalah indahnya kok dari Jogja, ia ingat seorang sahabat lama mengingatkannya perihal itu. Namun walau ia sudah memberitahu dirinya sendiri bahwa hal itu memang nyata adanya, yang ia miliki dahulu di kota tua bersejarah itu, tak pernah dapat tergantikan dengan kota yang (katanya) memendam berjuta hal tak terduga.
Menurutnya Jogja indah begitu adanya. Setiap jengkal, setiap sudut, bahkan setiap sisi Kota Jogjakarta memiliki keelokan yang kerap kali sulit dideskripsikan dengan sekedarnya kata-kata. Atau mungkin semua itu karena setiap jengkalnya memiliki cerita. Entahlah. Namun ia lupa rasanya. Ia lupa rasanya menikmati senja yang hangat berburu berbagai macam bacaan filsafat favoritnya di Shopping dekat Taman Pintar. Ia lupa rasanya terduduk seru di samping lelaki itu seraya menikmati pertunjukan wayang di pojok-pojok gang kecil Malioboro pada tanggal-tanggal tertentu. Ia lupa rasanya tenggelam dalam buku sajak yang mereka lahap bersama di perpustakaan kota. Pun, ia lupa rasanya menikmati sesorean suntuk bergulat dalam catur yang tiada habisnya.
“Cil, jangan bengong eh.” Sebuah suara seketika memecahkan segalanya. Ia kini terduduk tegap seraya menoleh ke arah suara, mendapati sesosok teman indekos yang menghampirinya. “Ntar kesambet woy.”
Perempuan kecil itu terkekeh ringan. “Iyanih, lagi seret soalnya.”
“Seret ide nulis ya?” Temannya dengan telak berhasil membaca isi otaknya yang kosong. Temannya kini mengambil tempat di sampingnya, menyesap secangkir teh hangat di atas balkon yang meniupkan udara malam yang menusuk. “Seret ide nulis atau lupa caranya menulis?”
Kini ia tertegun. Ia sendiri mengerti persis maksud dari kata-kata temannya. Dan jujur, ia tak tau yang mana. Yang kemudian hanya ia jawab dengan sebuah gedikkan pelan di bahu.
“Inget-inget nih ya, Cil. Nulis itu jangan dipaksain. Selama ini inspirasimu itu dia, jadi kalo dia gak ada wajar kamu jadi lupa caranya nulis. Tapi itu normal kok. Dan kalo udah begini, kamu cuma bisa inget-inget semua rasanya biar gak hilang semua kemampuan menulismu. He’s gonna be back soon, you’re going to reunite, I promise.
Lagi-lagi, ia tertegun. Ia tak tau harus berkata apa. Namun temannya benar. Mungkin ia hanya sedang lupa bagaimana caranya menulis karena tengah jauh dari muse yang ia miliki selama ini. “Do you have one, Vee? I mean, muse?” Lalu hanya kata-kata penasaran itu yang keluar dari mulutnya.
I did. He’s just long gone and you’re lucky that you still have your whole world in your hand. Jadi kalo nanti kalian udah ketemu lagi, jangan lupa bikin satu lagi sajak bagus ya.” Temannya itu mengacungkan jempolnya seraya tersenyum menyemagati. “Jarak kalian itu cuma dipisahin satu selat, bukan dunia dan akhirat.” Mirisnya, ia mengerti ucapan temannya itu yang kini bangkit dari tempatnya terduduk. “Udah yap, lanjutin lagi aja bengong cari inspirasinya.”
Dan kemudian, ia kembali termangu sendiri.
Rindu ya...
Perempuan itu segera mengeluarkan telepon genggamnya dan mengetik sebaris kata-kata dalam chatbox untuk lelakinya itu.
Ian, aku lupa rasanya punya muse aku sendiri duduk di sampingku waktu aku nulis sajak.
Terkirim.
Ian: Ya, jangan terlalu diharapinlah yang kaya gitu. Coba kamu inget-inget aja gimana rasanya jatuh cinta, semoga bisa jadi pencerahan yaa. Hehe
Dan lalu perempuan itu kembali termangu, mencerna kata-kata kekasihnya yang berada di negeri antah berantah nun jauh di sana. Ia yang gelak tawanya selalu berhasil membuatnya jatuh cinta. Ia yang sifatnya terlalu klasik untuk disandingkan dengan berbagai aw kekinian. Ia yang misinya menggali lebih dalam kota tua ini. Ia yang walau jauh senantiasa menuliskan pesan sepanjang novel. Ia yang membuatnya terus mengingat setiap jengkal Kota Jogjakarta.
Ia yang ia sebut Ian. Ia yang mungkin, saat ini sedang sibuk mengerjakan setumpuk materi fisika dasar. Ia, yang mungkin juga sedang menunggu-nunggu satu lagi sajak perempuan itu. Entahlah, kata-kata ini mulai kembali rancu. Maafkan narasi yang tak kunjung rampung ini ya, karena saat perempuan itu menarik selembar kertas cokelat dari jurnal sajaknya, ia mulai menuliskan sekata demi sekata yang mungkin patut untuk dibaca.
You ask me why I love him?


Have you ever seen a Kuta sunset?
Besides him, that was the purest and most sacred thing I’ve ever seen


Have you ever drifted on a bayou all down to Toba Lake?
The surroundings was breathtaking, just like his existence


Or watched a cold fog come drifting in Semeru?
It and so does he worth the patience


Have you heard the lullaby of paradise birds calling in the depth of Borneo forests?
Or the chirp of the crickets deep in endless green swirl of Ubud paddi?
The music is addictive and so is his raspy voice


Or do you look with awe and wonder, the shore of Karimun Jawa?
Every particle of both him and the nature intoxicates my soul
And do you think of him when you stroll along a jet above the fluorescent Paris Van Java?


Have you seen a snowflake drifting in Jayawijaya, way up high?
Or seen the sun come blazing down complimenting the blueness of Raja Ampat?
Or felt the soothing contact of Bogor rain on your moist skin?


Being with him, I’ve never felt so alive


You ask me why I love him?
I’ve got a  million reasons why;


He is my beautiful paradise
And I’m not going to deny that he imprisoned me;
Body, heart, and soul.

Ia tersenyum melihat hasil tulisannya. Mungkin, mungkin saja, yang kali ini benar-benar patut untuk dibaca. Begitu pikirnya kala ia kembali ke kamar indekosnya dan menutup buku kenangan tentang sebuah kota indah bersejarah yang dahulu pernah mengisi hari-harinya. Namun satu hal yang ia tau pasti, kekasihnya akan selalu setia menunggu untuknya kembali.

















×××××
Idektatablake production ® September 2016.
Yang kali ini saya tak tau apa namanya. Namun saya sedang menderita amnesia caranya menulis. Maafkan penulis rancu ini karena lama tak jumpa di blog berisi ribuan kata tak bermakna miliknya. Jika boleh sedikit berkata-kata, cerita malam ini diilhami oleh seorang sahabat dan kekasihnya yang cintanya dipisahkan jarak. Dan jika boleh juga bercerita sedikit, kedua sajak yang saya italic adalah dua sajak yang saya curi dari sahabat saya itu. Maaf ya sajaknya saya curi tanpa izin, namun saya harap kamu suka dengan kata-kata nan patah si penulis yang sedang amnesia ini.

Minggu, 24 April 2016

Harapan di Lakey.

Kepenatan otak kala itu hampir saja membuat kepalaku meradang saat kasus yang terakhir kali aku tangani berakhir kegagalan dalam meja persidangan tadi siang. Malam itu, di ruangan berukuran 4 x 4 meter persegi itu, aku hanya bisa manatap miris setumpukkan map berisi kasus-kasus persidangan sebulan terakhir yang harus kurekap dan kuserahkan kepada bagian pembukuan advokat tempatku bekerja. Aku meringis saat menggapai map yang berada di tumpukkan teratas itu dan menghela napas kesal.

Sebagai seorang pengacara, sudah menjadi cita-citaku untuk memenangi setiap kasus dari para klienku. Orang bilang, pekerjaan sebagai pengacara ada pekerjaan terkotor—hanya karena menjadi pengacara ialah membela siapapun klien mereka, salah maupun benar. Namun sesederhana kata membela itulah keinginanku untuk menjadi pengacara berasal. Aku tak pernah benar-benar memusingkan perkataan para sanak saudara yang kerap kali berpikir terlalu dangkal mengenai mimpi yang tengah aku jalani kini. Untukku, membela mereka yang tidak seharusnya bersalah adalah pekerjaan luar biasa hebat di dunia. Berbekal dengan kenangan pahit masa lalu, membela adalah satu hal yang tak pernah membuatku ingin berhenti higga kini.

Atau setidaknya, hingga aku sadar bahwa membela bukanlah pekerjaan mudah.

Aku berhenti sejenak, ketukkan pintu itu seketika membuat pikiranku buyar. Pintu kaca itu terbuka, nampak sesosok lelaki berusia hampir tiga puluhan itu masuk dengan dua gelas plastik putih berlogo hijau bulat ditengahnya. Merasa lega melihat sosok itu, aku segera merebahkan kembali kepalaku yang hampir pecah itu ke sandaran kursiku.

“Nay, udahlah. Gak usah lo pikirin kasus lo yang kalah itu.”

Namanya Genta, seorang atasan sekaligus sahabat di advokat kenamaan ibukota tempatku bekerja. Usianya sudah hampir menginjak kepala tiga, namun hingga kini masih juga belum menemukan sosok belahan jiwa yang selalu ia inginkan. Bertahun-tahun lalu, aku ingat pernah menjadi juniornya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tempat dimana kami berdua lulus. Lucunya, setelah lulus dan melamar pekerjaan, aku kembali menemukannya di tempat ini.

“Ta, masalahnya ini ibu-ibu dia kena KDRT suaminya. Masa iya sih dia minta cerai dan hak asuh anak aja, ujungnya hakim ngasih hak asuh itu ke suaminya yang abusive itu? Gak make sense, Ta.

“Nayara, hidup lo gak kelar hanya karena satu kasus ini lo kalah di persidangan. Gue ngerti keinginan lo untuk membela orang itu gede banget. Tapi apa gue butuh ambil berkas dan ngasih liat seberapa besar jauhnya perbandingan lo menangin kasus dengan saat lo kalah di persidangan?” Genta menyodorkan gelas itu. “Spearmint Greentea kesukaan lo nih, diminum dulu sebelum kepala lo itu beneran pecah.”

Dengan sigap, aku menarik mundur gelas yang ia letakkan di atas mejaku, menyesapnya pelan hingga akhirnya aku mulai merasakan sebagian kecil beban itu terangkat dari pundakku. “Thanks for being my savior for the night, Ta. Gue hargain segelas Spearmint Greentea ini.”

“Oh, gue hampir lupa.” Genta merogoh kantung celananya dan meletakkan selembar kertas persegi panjang berukuran tak lebih dari 10 x 5 cm itu di hadapanku. Aku mengernyit, menatap dengan seksama selembar kertas itu. “Weekend ini, lo berangkat ke Sumbawa.”

“Ada masalah yang harus gue tangani, Ta?”

Genta menggeleng. “Itu tiket pesawat, Nay.”

“Iya, gue tau. Tapi dalam rangka apa?”

“Liburan.”

And that’s the end of our conversation that night. Lusa paginya, Genta sudah menggiringku dari apartemen dengan bekal beberapa helai pakaian yang kujejal asal ke dalam koper dan mengirimku sesegera mungkin ke bandara Soekarno-Hatta.

Senin, 25 Mei 2015

Coincidence in The Rain.

Hari itu, lagi-lagi hujan kembali turun membasahi ibukota Jakarta tercinta, membuat kami para pekerja kewalahan bagaimana harus pulang. Di pertengahan bulan Juli seperti ini, seharusnya matahari bersinar cerah tanpa tertutupi awan kelabu yang membuat semua jiwa gelisah. Walau sejujurnya aku pun merupakan salah seorang pecinta hujan, namun lama kelamaan akupun meragu akan kebahagiaan yang hujan bawa untukku.
Aku menengadahkan kepalaku, memerhatikan betapa derasnya hujan mengguyur ibukota, membuat seluruh isi kota seakan membeku karena hujannya yang menghentikan aktivitas kami semua. Dulu sekali, saat aku masih kecil, aku selalu mempercayai cerita Ayah tentang hujan yang akan selalu membawa kedamaian juga kebahagiaan bagi siapa saja yang sabar dan mempercayainya. Dulu sekali, aku selalu mempercayai perihal hujan yang akan membawa pergi tangisan juga kesedihan dan menggantinya dengan sebuah kegembiraan yang baru di balik pelangi itu.
Namun, semenjak hari itu sosoknya meninggalkanku sendiri terperangkap dalam hujan yang begitu deras, aku mulai berfikir bahwa hujan hanya akan membawa bencana bagi jiwa-jiwa yang rapuh dan malang. Derasnya hujan hari itu serasa ribuan jarum yang menusuk tubuhku. Dinginnya hujan hari itu serasa begitu tajam menusuk pori-poriku. Walau hujan membuat tangisanku saru, aku tetap merasakan sakit yang begitu menusuk hingga aku sendiri merasa kelu seakan mati rasa.
Semenjak itu, aku selalu bersembunyi ketika hujan datang. Seakan sedang bermain kejar-kejarn, aku tak pernah ingin tertangkap oleh hujan yang pada akhirnya hanya dapat membuatku terperangkap dalam dinginnya hawa yang ia bawa. Terkadang aku sendiri sedih mengingat fakta, bagaimana dahulu hujan adalah satu-satunya temanku dikala aku merindu serta sendu, namun hanya karena sosoknya yang meninggalkanku di tengah hujan yang deras, semua perspektifku mengenai hujan berubah seketika begitu saja.
Aku melirik jam tanganku yang ternyata telah menunjukkan pukul 5:30 sore. Belum terlalu gelap seharusnya, namun awan kelabu sore itu menutupi sinar mentari yang aku butuhkan. Karena takut akan pulang kemalaman, aku pun mulai menerjang hujan. Sekali ini saja, bertahanlah. Kurapalkan ucapan itu berkali kali dalam hati, hanya untuk menguatkanku agar tidak mengingat rasa sakit yang pernah kurasakan dahulu karena perbuatan hujan sialan. Selangkah… dua langkah… tiga langkah… hingga akhirnya aku serasa sedang menari bersama hujan, aku mulai memperlambat kecepatan berlariku, hingga akhirnya aku benar-benar berhenti di tengah hujan yang deras itu.
Rasanya masih sama, sakit karena rintik hujan yang menderas itu serasa menusuk seluruh permukaan kulitku. Begitu juga hawa dingin yang ia bawa, selalu berhasil menusuk seluruh pori-poriku. Namun jika memang sebegini sakitnya, mengapa aku berhenti? Sejenak, aku dapat merasakan air mata itu kembali mengalir bebas. But guess what, this is the perk of crying in the rain, hujan akan membuat saru tangisanmu dan membawanya pergi tanpa jejak bersamanya.

Jumat, 22 Mei 2015

Untitled.

But he was just a boy, standing in the light of my way
Turning my life upside down with no warning
Pertemanan itu dimulai jauh sebelum hari-hari seragam putih abu-abu mendominasi kehidupan remajaku. Ia hanyalah seorang bocah lelaki yang kebetulan pergi ke tempat les yang sama denganku. Tidak pernah sekalipun ia mengucapkan sesuatu jika tidak ditanya oleh para pengajar. Namun tanpa disangka, persahabatan itu mulai tumbuh begitu saja saat kami bertabrakan di lorong gedung. Klise memang, namun semua itu mengalir begitu saja tanpa adanya paksaan. Ucapan permintaan maaf itupun tentu saja terlontar dari mulutnya. Dan entah bagaimana ceritanya, kami mulai sering berbicara.
Lucu memang jika mengingat bagaimana indahnya memiliki sahabat. Kisah suka maupun duka tentu kami bagi bersama. Bagaikan seorang teman yang telah mengenal sejak lahir, kami segera menjadi dua teman yang tak terpisahkan. Walaupun hanya dapat dipertemukan tiga hari dalam seminggu dan dua jam sekali sesi pertemuan, kami selalu memiliki cara kami masing-masing untuk menghabiskan waktu bersama. Mulai dari ngopi bareng di kedai favorit seusai les, hingga janjian untuk belajar bersama hingga larut malam. Begitu banyak cerita yang tak luput aku ceritakan kepadanya. Dengan kepribadiannya sebagai pendengar yang baik, jelas itu menjadi sebuah nilai tambah dalam persahabatan kami.
Hingga akhirnya kami lulus dan masuk ke sekolah yang sama, tak urungnya kami merasakan euforia kebahagiaan tersebut. Mulai sekarang kita sama-sama terus ya. Tak pernah aku lupa ucapannya yang begitu tulus, seakan menginginkan aku untuk tetap berada di dekatnya. Dan tolong jangan tanyakan aku bila aku menyayanginya lebih dari yang seharusnya, karena aku tidak ingin merusak segalanya. Hari demi hari berlalu tanpa lupa ia mewarnainya. Semua kenangan manis itu, mulai dari cabut sekolah seperti kebanyakan anak sekolahan jaman sekarang lakukan, hingga curhatan lewat tengah malam pun seakan menjadi bukti akan kenangan persahabatan kami tersebut.
Sampai hari itu tiba, aku ingat, di hari ulangtahunku yang ketujuh belas, seorang teman menarik kami ke lapangan dan berpura-pura menjadi seorang penghulu yang menikahkan kami. Rupawan, pintar, taat agama, penyayang orangtua, perhatian, apa lagi yang kurang? Sosoknya begitu sempurna hingga aku lupa jika di muka bumi ini tak ada yang sempurna selain Allah Sang Maha Pencipta. Namun sosoknya hampir mendekati kesempurnaan dan begitu banyak yang menyukainya. Hingga hari itu, tepat di titik itu, aku kembali bertanya kepada diri sendiri, apakah aku menyayanginya lebih dari yang seharusnya? Karena jika memang iya, seharusnya aku menyadari itu sejak awal.
Dist, nanti kalo gue udah mapan udah sukses, kita nikah beneran ya.

Rabu, 22 Oktober 2014

Pesan Untuk Si Kecil.

But you are just a little girl, darling.

Semakin kamu besar, kamu akan menemukan semakin banyak hal, sayang. Di luar sana, dunia ini kejam. Bahkan, kamupun harus pandai mencari teman. Di dunia sekejam ini, kamu harus pandai-pandai menempatkan diri dan memasang topeng. Mungkin saja diam-diam, orang yang sangat begitu dekat denganmu pun membicarakan kamu di belakang. Atau lebih parahnya, menusukmu secara diam-diam dan perlahan sampai rasa sakitnya tak tertahankan. Di dunia sekejam ini, kamu tidak boleh menjadi sosok yang naif. Perlu kamu tau, sosok-sosok naif yang bertebaran di dunia ini adalah mereka yang ditindas, hanya karena mereka terlalu baik menilai orang. Dan kamu, kamu pun harus bisa begitu, pasang topengmu dan jangan biarkan siapapun melihat kesedihan yang kamu rasakan. Semua orang tau, kamu itu terlalu polos, Sayang. Jadi, cepat besar ya! ☺ Agar kamu bisa belajar tentang dunia yang kejam ini.

Aku tau, dia baru saja menusukmu, kan? Mereka berdua, yang notabenenya adalah dua orang yang sama-sama kamu kenal dan kamu sayangi, bersatu dengan alasan yang sama seperti alasan mengapa kamu dekat dengan mereka. Sayang. Bukankah mereka sama naifnya dengan kamu? Mereka adalah dua sosok yang tidak mau mengerti kamu hanya karena mereka egois dan menginginkan pengertian darimu. Tapi apa salah menangis karena itu? Sebenarnya, berbagai jenis emosi yang seseorang keluarkan adalah wajar. Dan menangis adalah salah satu emosi yang ada. Jadi bukan salah kamu jika kamu menangis karena sosok kedua orang itu.

Tapi sini, aku bisikkan sesuatu...

Sabtu, 14 Juni 2014

Kamu dan Cinta.

Cinta itu apa?

Matahari yang setia menyinari bumi kah?


Bulan yang setia menemani malam yang kelam kah?


Sepoy angin menenangkan di tengah teriknya matahari bulan Juli kah?


Atau, hujan yang setia membasahi bumi bulan Desember kah?


Entahlah, sayangku.


Namun untukku,


Tak peduli seberapa panas matahari di bulan Juli,


Tak peduli seberapa dingin hujan di bulan Desember,

Tak peduli seberapa banyak bintang yang menghiasi langit malam,

Tak peduli seberapa pahit kopi hitam yang kusesap,

Tak peduli seberapa banyak kata yang kutuliskan kini,


Cinta tetaplah kamu,


Sebuah definisi terindah dari lima huruf sederhana itu.

Dan sore ini,


Di antara rintik hujan yang tengah kupandangi,


Aku berharap atas kebahagiaanmu selalu.


Karena aku mencintaimu.


Itu sebabnya aku tak pernah selesai mendoakan keselematanmu.




*****
idektatablake ® Juni 2014.
Untuk kamu, hujan sore ini adalah puisi tentang kita.

Rabu, 16 April 2014

Celotehan Lewat Tengah Malam.

It's been a long while, hasn't it? Apa kabarmu, sayangku? Baik-baik saja bukan? Well, setidaknya kuharap begitu.

Bicara tentang baik-baik saja, akupun baik-baik saja di sini. Itupun jika dirimu ingin tau kabarku. Entahlah, terkadang hati ini masih tetap saja berharap tentang eksistensi dirimu yang dulu di hati ini. Kemana kamu yang dulu? Sudah pergi kah? Atau telah berubah? Aku rasa berubah adalah jawaban yang paling tepat. Everythings change, begitu orang-orang selalu mengatakan. Namun terkadang pikiran ini selalu membatah dan mempertanyakan, mengapa tidak bisa tinggal dan tetap seperti ini? Mengapa harus berubah jika dapat tetap seperti ini?

Suatu hari seseorang mengatakan padaku, kamu pun sendiri berubah, Tata. Kenapa tidak pernah mempertanyakan itu pada diri sendiri? Lalu, aku terdiam. Benarkah kamu telah berubah? Ataukah hanya perspektif ini saja yang berubah letak pandang? Mungkin, kita memang berubah. Mungkin, akupun lelah. Dan memang benar, setelahnya, setelah kuhabiskan waktuku merenung, aku pun tersadar bahwa diriku telah berubah. Karena aku bukanlah seutuhnya diriku tahun lalu.

"Setiap orang mendewasa, anakku." Begitu kata bunda. "Dengan usiamu yang seperti ini, juga dengan label 'seorang yatim' yang harus kau pikul setiap hari pun, kamu telah menjalani masa pendewasaanmu dengan itu. Tidakkah kamu sadar? Banyak orang yang datang lalu pergi di hidupmu. Seperti halnya sebuah lapangan parkir, kamu tidak bisa mengkehendaki mobil siapa yang harus tinggal selamanya. Sang pemilik mobil dapat mengambil mobil itu kapan saja, dan kamu tidak dapat menahan mobil itu untuk pergi. Seperti itulah perumpamaan hidup ini. Tuhan sebagai sang pemilik mobil, dan kamu sebagai pemilik lahan parkir. Mungkin banyak dari mobil itu yang kamu sayangi yang tak ingin kamu lepaskan, tapi mobil-mobil itu bukanlah milikmu dan kamu tak berhak untuk menahan mobil itu untuk pergi. Seperti itulah, kamu juga orang-orang yang pergi dari hidupmu. Tuhan telah mengkehendaki mereka tuk pergi. Dan kamu tidak memiliki hak untuk menghentikannya karena mereka bukanlah milik kamu. Jadi, jika orang-orang itu pergi, biarkanlah mereka pergi. Setidaknya, kenangan tentang mereka akan tetap tinggal selamanya dalam dirimu. Bunda berjanji, orang-orang yang pantas akan tetap tinggal. Kamu hanya harus menunggu waktu yang tepat untuk mobil-mobil itu dilupakan pemiliknya dan dititipkan padamu untuk waktu yang cukup lama."

Minggu, 23 Februari 2014

Changes.

Feelings change, Darling. And so do the people.

And it's true, indeed.

Tapi bagian yang paling menyakitkan adalah bagaimana kenangan-kenangan akan rasa serta mereka yang dulu pernah eksis dalam hati tetaplah sama, akan selalu berada di sana selamanya. Dan tidakkah itu menyakitkan? Karena saat rasa dan orang-orang itu telah berubah, yang tersisa hanyalah bayangan akan masa lalu mereka. Aku pikir itu sungguh menyakitkan. Dan percayalah, saat kukatakan padamu bahwa rasanya memang menyakitkan, jangan pernah tanyakan kembali apa aku baik-baik saja setelahnya.

Karena faktanya aku tidak baik-baik saja.

Dua bulan berselang, akhirnya aku dapat merelakan fakta bahwa terkadang, tidak selamanya orang-orang yang kukehendaki dapat tinggal dalam hidup ini untuk selamanya. Like I said before, feelings change and so do the people. Jadi, aku berusaha merelakan fakta itu dan berdamai dengan diri sendiri. Setelah (lagi-lagi) merasakan pahitnya jatuh cinta, aku tersadar bahwa hidup itu tak selamanya indah. Ada kalanya hidup ini dipenuhi oleh warna pelangi. Namun ada kalanya pula hidup ini dipenuhi oleh warna kelabu yang menyeramkan. Yang perlu kita lakukan adalah menunggu dan bersabar karena setelah badai berlalu, pelangi pasti akan menyembul dibalik sisa-sisa awan kelabu, memberikan sebuah pengharapan yang baru untuk hidup yang lebih indah.

Mungkin sekarang kalian akan bertanya, mengapa aku mempercayai semua konsep omong kosong ini. Namun, kawanku, aku akan menjawabnya dengan sebuah senyuman. Karena sebagai pecinta hujan, Almarhum Ayah selalu mengajariku untuk selalu mensyukuri segala bentuk rezeki yang Tuhan berikan pada kami. Dan hujan.... hujan adalah salah satu bentuk rezeki itu sendiri. Biasanya, saat hujan turun, Tata versi 5 tahun akan berlari dengan girang menuju halaman rumah, lalu menari di bawah tetes hujan yang turun.

Bukankah itu menyenangkan?

Lalu kini mungkin kalian akan kembali berargumen, mengatakan bahwa hujan sebenarnya hanya akan membawa bencana pada kita semua. Namun, kawanku, kalian salah. Aku selalu percaya bahwa hujan adalah suatu pertanda kebahagiaan di balik badai kesedihan. Mengapa? Karena saat langit mulai kelabu, saat semuanya berubah dingin dan gelap, saat sedikit demi sedikit tetesan hujan mulai jatuh membasahi bumi ini, kalian bisa memahami serta merasakan seberapa rapuhnya bumi yang kita pijak ini. Rasanya seperti kalian akan mengerti bahwa bumi tidak sekuat yang kalian kira.

Namun taukah kalian apa yang akan terjadi setelahnya? Setelah hujan reda, pelangi akan muncul. Sebuah perpaduan warna yang baru setelah warna kelabu berlalu. Sebuah bentuk kegembiraan yang baru setelah badai kesedihan berlalu. Tidakkah menurut kalian itu adalah konsep yang indah? Menenangkan hati juga menentramkan jiwa? Tidakkah menurut kalian itu adalah sebuah reasuransi akan hidup yang lebih indah untuk jiwa-jiwa rapuh yang hampir hancur karena kesedihan? Aku pikir konsep hujan itu indah. Maka dari itu, setiap cobaan melanda hidup ini, aku selalu merapalkan puji syukurku pada Tuhan karena aku percaya setelah cobaan tersebut berlalu hidup ini akan kembali membaik.

Dan seperti halnya konsep hujan yang tadi kuceritakan pada kalian, aku juga percaya bahwa rasa juga mereka yang telah berubah, pergi, lalu meninggalkan bekas luka di hati ini, akan memiliki penggatinya yang berperan sebagai penyembuh luka menganga dalam hati ini. Dirinya yang perlahan berjalan menjauhi pintu hati ini telah mengajarkanku bahwa tak selamanya seseorang dapat tinggal dalam hati. People walk in and out in our life, but only some of them will leave a footprint in our heart. Dan sosoknya telah membuktikan padaku bahwa hampir setiap lelaki yang pernah singgah di hati ini setidaknya telah mengukir jejaknya dalam hati ini.

Jumat, 24 Januari 2014

Broken Heart.

Have you ever loved someone too much it actually hurts?

Just admit it, at least for once in your life, there must be someone you love the most in this life you still can’t get over with. I know that it always hurts knowing the person you love doesn’t love you back. But if you look at the positive side, maybe it’s because they don’t deserve you, because you simply deserve someone that is so much better than them. I’ve been on that situation before. And I let alone the fact that they don’t love me back as the fact that I may actually deserve someone better. And yes, I am in that situation right at the moment.

And yes, the person I’m currently in love with doesn’t love me back.

And it indeed hurts. A lot.

Maybe you always wonder, because when we were little, if we fell, they would ask you where it hurt and you would instantly point to your knees, your arms, or an elbow, then they would make it better for you. But then you might notice it too, that as we get older, if we fall, they no longer ask where it hurts. So you sit silently in your room, waiting for someone to ask you where it hurts, pointing to your head and your heart. Because that is where the pain hurts the most. But nobody makes it better. And that’s why the pain we feel inside is often getting worse because they no longer care.

Us teenagers have our ways to express the pain we feel inside. Some of us express it in the good way, but some others express it in the wrong way. For me, those who express their pain in the wrong way by cutting themselves are not attention whores. They are just some lonely teenagers who don’t have a shoulder to cry on, a hand to hold on to, a friend to simply tell everything to. So they use razor as their pen and their wrist as their paper, they write their story in it until they run out of wrist to write on to. So then they continue to cut their other wrist and thighs and stomach and then their body slowly turns to be their diary. I think this is not wrong after all, because they simply have their own reason why they did what they did.

And here is what I learned since then; every scar tells a story, a very hidden one.

Minggu, 10 November 2013

Present, Future, and Happily Ever After.

As a very dreamy girl, aku selalu menginginkan konsep cinta sejati dalam hidup ini. Sebut aku ini klise, karena memang beginilah diriku adanya. Sejak kecil, aku selalu membayangkan menikahi seorang pria yang kucintai dan akan tetap kucintai hingga akhir hayatku. I dream walking down the aisle with him there waiting for me on the altar. Aku membayangkan hidup di kota besar metropolis seperti New York, tinggal di sebuah apartemen mewah bersama suami dan sepasang anak kembar, memiliki pekerjaan sebagai columnist untuk majalah The New Yorker, dan hidup bahagia selamanya. Terdengar klise bukan? Mungkin memang kehidupan idamanku itu terdengar klise, namun aku sendiri tidak dapat memungkiri betapa sempurnanya kehidupan ini jika aku memiliki hidup seperti apa yang sejak dulu kudambakan.

Faktanya, sejak aku kecil, aku sendiri selalu mengira-ngira siapa laki-laki yang akan menjadi suamiku, jodohku, ayah dari anak-anak yang kumiliki kelak. Apakah ia adalah seorang teman lama? Apakah ia adalah lelaki yang kutabrak saat dijalan? Apakah ia adalah seseorang yang akan menjadi partner kerjaku kelak? Ataukah ia adalah teman dekatku sendiri? Faktanya, aku tidak akan pernah tau. Dan itulah hal yang selalu membuatku penasaran.

Dulu, whenever I had a crush on someone, aku akan membayangkan hidupku dengan skenario dimana aku akan menikahi mereka, memiliki anak-anak yang lucu, hidup bahagia layaknya fairy tales. Namun seraya aku bertambah usia, aku mengerti bahwa kehidupan ini bukanlah fairy tales, yang mana aku dapat hidup bahagia selamanya seperti dongeng-dongen sebelum tidur yang sering kudengar dulu. Jadi, saat aku mulai menyadari fakta itu, aku mulai berhenti berharap. Aku mulai berhenti mengharapkan sebuah kehidupan layaknya dongeng-dongeng penghantar tidur. Aku mulai berhenti mengharapkan sebuah sebuah konsep ‘and they happily ever after’ dalam hidupku.

Namun disanalah ia berdiri.

Di tengah kerumunan orang banyak dengan wajah yang dapat dengan mudah aku kenali diantara wajah-wajah asing itu, ia menonton pertunjukkanku malam itu dari kejauhan. As if he transferred his energy to me, I got my whole self esteem back and I smiled and that was enough. Pagi itu, aku berharap ia dapat datang namun ia memiliki keperluan lebih mendesak yang tak dapat ia lewatkan. Jadi aku mengerti. Namun malam itu, ia ada di tengah kerumunan orang banyak, dengan wajah lelah itu seakan mengatakan ia ingin aku lebih bersemangat.

Maybe a lot of you don’t know who the hell I’m talking about, yang mana tak akan kusebutkan siapa orangnya pula. Namun tepat pada saat itu, aku mulai bisa merasakan harapan yang lebih. Aku dapat merasakan kehidupan layaknya fairy tales saat aku melihat ke dalam mata cokelatnya itu. I know this is such a rush to talk about future, but hell, I see my future in him.

Aku tau, walau pada akhirnya aku akan menyesali apa yang kutulis saat ini, yang mana aku tidak akan berakhir menikahinya seperti yang aku inginkan, aku akan tetap menyayanginya, at least for this present time. Aku tidak peduli dengan siapa ia akan berkencan nantinya. Aku tidak peduli dengan siapa ia akan jatuh cinta untuk waktu dekat. Yang aku peduli hanyalah bagaimana aku ingin menjadi yang terakhir untuk dirinya, menjadi sosok yang akan mengakhiri perjalanan cintanya, menjadi sosok terakhir yang akan ia sayangi untuk selamanya.

I know forever is a long time.

Selasa, 05 November 2013

Conception of True Love and Moving On.

Since I was just a little girl, I've always wanted that one figure of someone who would want to spend the rest of his life with me. I know this sounds so cliche. But I've grown in to a very dreamy girl who always longs for a perfect conception of true love that some people don't think exist in this kind of rough world. But the truth is, true love always exists. I mean, don't you think it's funny that million miles away from here, there is someone living on this earth, breathing the same air, walking on the same pavement with you, also longing for your presence there beside him? Don't you think it's funny how God has already planned out about how you two will meet and how you two will eventually fall for each other?

For me myself, I believe true love exists.

The thing is, I just haven't found him yet. And though I believe I will meet him one day, I keep searching for him. Maybe he's a friend of mine from the same class. Maybe he's someone I bump into when I walk past the road. Maybe he's someone who attends the same concert with me. Everyone, every single damn person you see on the road, they could be your true love. The thing is, you're just too blind to look a little closer to them.

They are always there, with or without you realize.


They are the sense in your nonsense, the expectation in your reality, the amen in your prayers, the wish in your dreams, the tears in your cries, the beats in your heart, the melody in your music, the fantasy in your head, the sun in your morning, the moon in your night, the light in every dark path that guides you, the prince charming for your Cinderella, the happy in your ending......


I know this sounds so cliche, I know. I just think I need to remind you that somewhere out there, there is someone longing for your presence beside them. Somewhere out there, they are thinking about what you are doing right at this moment. Somewhere out there, they pray for you that you will be safe and sound here. You may not know who they are, but God will lead them to you eventually. You just have to wait for the right time to come around. And believe me, they are real. They exist somewhere on this earth.


On bad days, I will stop what I'm working on and stuff myself with anything I can think about. And usually, the conception of true love will come on my mind. For me, true love is not just someone you will marry one day. Is not. It's simply someone who will accept you for who you are, who will listen to every story of yours, who will stop you from self harm, who will love you still even if scars covering your precious skin, who will cuddle you up after a long rough day at work, who will treat you like a Disney princess, who will be your prince charming even if he's not that charming, who will be the father for your children and the grandfather for your grandchildren. Yes, true love does not share the big things, but they do share the little things.