Menurutku, tak ada hal yang lebih romantis dari sebuah gerhana. Dua ciptaan Tuhan paling buruk namun juga paling indah pada saat yang bersamaan. Dua ciptaan yang terkadang nampak kasatmata bagi kita, yang terkadang dianggap sebuah angin lalu, namun pada saat yang bersamaan adalah dua hal yang memiliki andil cukup besar dalam perputaran bumi ini. Mereka, dua hal yang berbeda, yang kemarin baru saja kembali bersua setelah ribuan hari lamanya tidak berjumpa. Mereka, dua hal yang berbeda, yang bercumbu dengan begitu indahnya. Mereka adalah sepasang kekasih yang selalu berjalan beriringan, namun tak pernah dipertemukan dalam satu jalan yang sama. Dan sesedih apapun hal ini terdengar, aku sadar bahwa sesedih itulah kisah cinta kita berdua.
Mereka—anak anak kecil yang kita ajar bersama di sebuah taman belajar itu, adalah bumi kita berdua, penonton setia dari matahari dan bulan yang selalu menemani siang dan malam mereka. Mereka, yang biasanya akan riuh redam bersuara saat kamu datang, sontak akan berlarian memelukmu karena merindukan sosok matahari mereka. Taukah kamu? Untuk bumi, kamu adalah matahari—sesuatu yang menerangi bahkan di saat-saat tergelap mereka sekalipun. Taukah kamu? Untuk bulan, kamu adalah pendar cahaya pantulan terindah yang pernah bulan miliki. Dan taukah kamu? Bulan yang kumaksud adalah aku.
Orang bilang, cinta terkadang mempertemukan sepasang manusia yang tepat di saat yang salah. Dan terkadang, cinta pun mempertemukan sepasang manusia yang salah di saat yang tepat, yang kemudian menciptakan sebuah ilusi pikiran di mana semua terasa indah pada waktunya. Dan tau apa? Aku rasa kita ada definisi cinta yang kedua. Aku pikir aku adalah bulanmu, Sayang, yang akan mencumbumu hangat kala nanti gerhana menghampiri, memberi jalan bagi bulan dan matahari untuk bertemu kembali. Namun aku salah. Karena ternyata aku adalah bumi, sesuatu yang tak dapat berhenti menginginkan matahari untuk menyinari. Aku adalah anak-anak kecil itu, Sayang, yang akan berlari ke arahmu dan memelukmu hangat kala kamu kembali ke hadapanku pagi nanti.
Lucu sekali bagaimana bumi tak dapat bertahan tanpa matahari. Pendar cahayamu, tubuh tegap yang terkesan tegas itu, senyum hangat yang mampu melelehkan jiwa itu—taukah kamu bahwa sumber cahaya bumi tak boleh pergi? Namun mengapa saat wanita itu, bulan mu, datang menghampiri kala gerhana terjadi dan mencumbu bibirmu hangat, aku merasa kosong dan sendiri? Seluruh pendar cahayamu seketika redup dari bumiku, terhalang oleh sosok menawan itu.
"Key, gue rasa gue udah gak bisa ngajar lagi di Taman Belajar Ketaki ini." Entah mengapa, ucapan itu serasa petir yang menyambar bumi dan menyakiti bagian terdalam sang bumi.
Matahari, kamu tak boleh pergi.