Hari ini, kita kembali dipertemukan.
Kapan terakhir kali aku melihat kamu, Sayangku? Setahun yang lalu kah? Lima tahun yang lalu kah? Atau bahkan, sepuluh tahun yang lalu? Entahlah, aku rasa kita sudah lupa untuk menghitung. It's been a very long time, my dear. Mengapa kamu harus berekspektasi bahwa aku baik-baik saja? Aku sadar, kita tidak pernah ditakdirkan untuk bersama.
Namun, saat aku tanpa sengaja menabrakmu di tengah sibuknya jalanan kota New York, saat lalu aku meminta maaf dan kamu mengatakan bahwa kamu baik-baik saja, saat setelahnya kamu mendongak dan kita mendapati diri masing-masing terlalu kelu untuk bergeming, dan saat kemudian aku memecah keheningan dengan berkata hai padamu... saat itulah aku tersadar bahwa aku salah. Aku rasa, inilah yang mereka sebut takdir. Maksudku, kita tak akan pernah berada di sini saat ini jika Tuhan tidak mengkehendakinya.
Dan lalu kamu memecah pikiranku dengan berbalik menyapaku dan menanyakan kabarku. Awalnya kupikir kamu tak akan mengingatku. Well, setelah sepuluh tahun lamanya tak bertemu, kita kembali dipertemukan dengan ingatan yang masih sesegar dulu... tidak kah itu sebuah kebetulan? Aku rasa tidak.
Aku sempat terdiam untuk sesaat, memikirkan matang-matang tentang apa yang akan aku katakan sebagai jawabanku. Apa kabarku? Aku rasa aku baik-baik saja. Entahlah. Aku rasa begitu, namun benarkah aku baik-baik saja? Setelah kejadian menyakitkan sepuluh tahun yang lalu, aku sendiri sebenarnya ragu apa aku baik-baik saja atau tidak. Namun, alih alih mengatakan dengan jujur jawabanku yang sebenarnya, aku malah mengatakan,
"Aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?" Dengan senyum yang kupaksakan itu, kamu lalu mengajakku menepi dan mengatakan bahwa kamupun baik-baik saja, begitupun dengan dirinya.
Sepuluh tahun lamanya menyendiri, aku lupa bagaimana rasanya tersakiti. Namun, saat kamu kembali menyebutkan nama itu, rasa itu kembali hadir di dalam hati yang sudah lama tidak bekerja ini. Sebut aku drama, namun bukankah begitu adanya? Dulu sekali, saat hari-hari berseragam putih abu-abu masih mendominasi kehidupan remaja kita, kamu selalu berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa kita akan selamanya bersama, bahwa tak ada yang harus dikhawatirkan. Namun saat hari kelulusan tiba, saat kamu kembali berjanji padaku bahwa semua akan baik-baik saja, saat lalu kita harus berpisah untuk mencari jati diri masing-masing, saat itulah kamu kemudian menemukan sosok itu. Sosok lain yang kamu temukan di belahan dunia yang lain.
Dulu, kamu bilang bahwa mungkin kamu bukanlah sosok yang terbaik untukku, bahwa nun jauh di sana, sosok prince charming itu masih setia menunggu keberadaanku di dekatnya. Namun dulu—maksudku saat itu—aku sadar bahwa maksudmu yang sebenarnya adalah bahwa sesungguhnya aku bukanlah sosok yang terbaik untukmu. Apa aku sedih? Ya. Apa aku menangisimu? Tidak. Faktanya, saat itu aku hanya terdiam, terlalu bingung bagaimana caranya menjawab pernyataanmu. Dan nyatanya, semua janji yang kamu buat hari itu, tiga tahun yang lalu, semuanya hilang begitu saja bagaikan tertelan bumi.
Mereka bilang, waktu terus berjalan dan aku tidak dapat berdiam di tempatku berdiri terus menerus. Kamu pun telah kembali berjalan. Walau bukan dengan sosokku, namun kamu tetap berjalan beriringan dengan waktu. Tanpa aku yang masih jauh tertinggal di belakangmu. Setahun berjalan, duniaku belum juga berputar. Dan yang kulihat dari profile facebook mu, kamu masih tetap berjalan, meninggalkanku semakin jauh tertinggal di belakang. Dan terus seperti itu, hari tetap berganti, begitu juga dengan minggu, bulan, dan tahun. Hingga akhirnya tiga tahun berlalu.... surat itu datang di penghujung bulan Desember. Dengan berat hati, kubuka amplop biru itu dan kulihat namamu terukir begitu indah berdampingan dengan nama perempuan itu. Seingatku, kamu tak pernah menyebutkan nama perempuan itu. Namun lalu kini, aku harus mengetahui namanya dari amplop biru ini, sebuah amplop yang mewakili tanggal pernikahan kalian nanti. Dan kamu tau apa?
Aku tak pernah datang.
Lima tahun berlalu, aku tetap menyendiri di tanah kelahiran kita. Tak pernah kudengar sedikitpun tentangmu dari kawan lama kita. Walau pernah sesekali kudengar bahwa kamu telah bahagia, aku tidak lagi memerdulikannya. Atau harus kukatakan bahwa aku sudah kebal dengan perasaan menusuk itu. Dan lalu, akhirnya aku memutuskan untuk kembali berjalan, mengejar ketinggalanku yang telah lama itu. Mencoba peruntunganku di negeri orang sepertimu, adalah resiko terbesar yang kuambil untuk kembali berjalan dan mengejar semua ketinggalanku dari kamu waktu itu. Dan New York.... adalah pilihanku untuk mengejar semua itu.