Tampilkan postingan dengan label love story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love story. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2019

Sajak Rindu untuk Jogjakarta.

Remang-remang kota Jogjakarta semakin terasa indah kala pertokoan angkringan mulai membuka lapak-lapak tendanya. Mereka yang sibuk memasang pasaknya, mereka yang lupa akan waktunya, mereka yang terlalu bahagia untuk meninggalkan kota Jogjakarta—Malioboro berhasil mencampur adukkan semua rasa yang semua orang miliki menjadi satu.
Seperti dua sosok yang tengah berjalan dengan jemari mereka yang saling menautkan diri, mereka pun tak kalah serupa dengan mereka yang menenggelamkan diri dalam eloknya remang-remang kota Jogjakarta kala malam. Syahdu rasanya, mendengar sepasang yang tengah jatuh cinta, saling bercakap dengan cara yang tak biasa. Mungkin mereka pun sama dengan pasangan yang lainnya, yang pada akhirnya memiliki keharusan untuk meninggalkan satu sama lainnya. Pun cinta yang dipersatukan oleh suatu kota, kini harus merenggangkan jaraknya.
Masih terngiang kala lelaki itu mendekap manekin kecilnya, begitu ia menyebut perempuan kebanggaanya itu. Tak urung ia mendekap dan terus mendekap hingga Sang Manekin sesak kehabisan nafas, Sang Lelaki tergelak. “Eh, jangan nakal-nakal ya di kota orang.” Sang Lelaki mulai angkat bicara. “Badan kecil kaya manekin di toko baju anak-anak gini, gak akan mungkin ada yang percaya kalo kamu bilang kamu ini mahasiswa.”
Sang Manekin mendengus. “Kecil-kecil gini juga bisa bikin orang jatuh cinta.”
“Pake apaan?” Nada itu menantang.
“Pake kata-kata puitis yang bisa bikin hati orang meleleh. Trus mereka bakal mempertanyakan deh, ini beneran anak kecil atau jenius sajak yang lagi pura-pura jadi anak kecil ya?” Sejurus kemudian lelaki itu kembali mendekap manekin kecilnya hingga kehabisan nafas.
Dan ia kembali tergelak. “Mana ada yang kaya gitu di sana.” Lalu ia terdiam, membiarkan sayup-sayup para penjual asongan di sepanjang jalan Malioboro yang tengah mereka lalui itu memanggil-manggil mereka untuk sekedar membeli barangnya. “Tapi, cil, aku serius nih. Di sana jangan lupa bahagia ya?” Lelaki itu kemudian menoleh ke arah manekin kecil kesayangannya, seraya tersenyum dan kembali menautkan tangan yang sempat terpisahkan.
Dan mereka pun kembali terdiam, tenggelam dalam arus rindu yang mungkin saja sedetik dua detik kemudian akan membuat isi kepala mereka kalang kabut ketakutan. Walau kedua jasad itu masih menautkan jemarinya, namun kedua pikiran itu melayang entah kemana. Mungkin salah satu mereka tenggelam dalam pemikiran tentang kesendiriannya di kota tempat mereka pertama kali mengadu cinta. Mungkin yang lainnya tenggelam dalam pemikiran akan tempat baru nan jauh di sana dimana ia harus merelakan jauh cinta lamanya. Namun tak pernah ada yang tahu pasti, apa yang kedua manusia itu pikirkan.
Dan kala langit malam semakin pekat, kala manusia semakin menumpuk, kala ketakutan semakin menjadi—rindu mereka menari di bawah langit Malioboro malam hari.
×××××
Dan kerlip kota yang setengah pulas
Mengingatkanku padamu,
Engkau yang tersenyum, membeku dalam lalu.” — 12.08.16
Perempuan itu terduduk dan termangu di ujung balkon lantai tiga tempat indekosnya. Kerlip malam kota Denpasar memang cantik, terlebih jika ditemani secangkir teh hangat dan jurnal berisi berlembar-lembar sajak rancu hasil hari-harinya merindu. Namun entah mengapa, semakin lama ia berpikir semakin kosong pula otaknya itu. Setelah beberapa bulan lamanya berpisah dari sosok kekasihnya, ia lupa bagaimana caranya menulis dengan baik dan benar. Tangannya selalu kelu ketika jemari itu menyentuh secarik kertas dan sebatang pensil tumpul.
Kosong. Nol.  Nihil.
Perempuan itu hampir saja frustasi ketika sajak terakhirnya itu ia baca berulang-ulang dalam hati tanpa ia dapat menciptakan yang baru. Bali gak kalah indahnya kok dari Jogja, ia ingat seorang sahabat lama mengingatkannya perihal itu. Namun walau ia sudah memberitahu dirinya sendiri bahwa hal itu memang nyata adanya, yang ia miliki dahulu di kota tua bersejarah itu, tak pernah dapat tergantikan dengan kota yang (katanya) memendam berjuta hal tak terduga.
Menurutnya Jogja indah begitu adanya. Setiap jengkal, setiap sudut, bahkan setiap sisi Kota Jogjakarta memiliki keelokan yang kerap kali sulit dideskripsikan dengan sekedarnya kata-kata. Atau mungkin semua itu karena setiap jengkalnya memiliki cerita. Entahlah. Namun ia lupa rasanya. Ia lupa rasanya menikmati senja yang hangat berburu berbagai macam bacaan filsafat favoritnya di Shopping dekat Taman Pintar. Ia lupa rasanya terduduk seru di samping lelaki itu seraya menikmati pertunjukan wayang di pojok-pojok gang kecil Malioboro pada tanggal-tanggal tertentu. Ia lupa rasanya tenggelam dalam buku sajak yang mereka lahap bersama di perpustakaan kota. Pun, ia lupa rasanya menikmati sesorean suntuk bergulat dalam catur yang tiada habisnya.
“Cil, jangan bengong eh.” Sebuah suara seketika memecahkan segalanya. Ia kini terduduk tegap seraya menoleh ke arah suara, mendapati sesosok teman indekos yang menghampirinya. “Ntar kesambet woy.”
Perempuan kecil itu terkekeh ringan. “Iyanih, lagi seret soalnya.”
“Seret ide nulis ya?” Temannya dengan telak berhasil membaca isi otaknya yang kosong. Temannya kini mengambil tempat di sampingnya, menyesap secangkir teh hangat di atas balkon yang meniupkan udara malam yang menusuk. “Seret ide nulis atau lupa caranya menulis?”
Kini ia tertegun. Ia sendiri mengerti persis maksud dari kata-kata temannya. Dan jujur, ia tak tau yang mana. Yang kemudian hanya ia jawab dengan sebuah gedikkan pelan di bahu.
“Inget-inget nih ya, Cil. Nulis itu jangan dipaksain. Selama ini inspirasimu itu dia, jadi kalo dia gak ada wajar kamu jadi lupa caranya nulis. Tapi itu normal kok. Dan kalo udah begini, kamu cuma bisa inget-inget semua rasanya biar gak hilang semua kemampuan menulismu. He’s gonna be back soon, you’re going to reunite, I promise.
Lagi-lagi, ia tertegun. Ia tak tau harus berkata apa. Namun temannya benar. Mungkin ia hanya sedang lupa bagaimana caranya menulis karena tengah jauh dari muse yang ia miliki selama ini. “Do you have one, Vee? I mean, muse?” Lalu hanya kata-kata penasaran itu yang keluar dari mulutnya.
I did. He’s just long gone and you’re lucky that you still have your whole world in your hand. Jadi kalo nanti kalian udah ketemu lagi, jangan lupa bikin satu lagi sajak bagus ya.” Temannya itu mengacungkan jempolnya seraya tersenyum menyemagati. “Jarak kalian itu cuma dipisahin satu selat, bukan dunia dan akhirat.” Mirisnya, ia mengerti ucapan temannya itu yang kini bangkit dari tempatnya terduduk. “Udah yap, lanjutin lagi aja bengong cari inspirasinya.”
Dan kemudian, ia kembali termangu sendiri.
Rindu ya...
Perempuan itu segera mengeluarkan telepon genggamnya dan mengetik sebaris kata-kata dalam chatbox untuk lelakinya itu.
Ian, aku lupa rasanya punya muse aku sendiri duduk di sampingku waktu aku nulis sajak.
Terkirim.
Ian: Ya, jangan terlalu diharapinlah yang kaya gitu. Coba kamu inget-inget aja gimana rasanya jatuh cinta, semoga bisa jadi pencerahan yaa. Hehe
Dan lalu perempuan itu kembali termangu, mencerna kata-kata kekasihnya yang berada di negeri antah berantah nun jauh di sana. Ia yang gelak tawanya selalu berhasil membuatnya jatuh cinta. Ia yang sifatnya terlalu klasik untuk disandingkan dengan berbagai aw kekinian. Ia yang misinya menggali lebih dalam kota tua ini. Ia yang walau jauh senantiasa menuliskan pesan sepanjang novel. Ia yang membuatnya terus mengingat setiap jengkal Kota Jogjakarta.
Ia yang ia sebut Ian. Ia yang mungkin, saat ini sedang sibuk mengerjakan setumpuk materi fisika dasar. Ia, yang mungkin juga sedang menunggu-nunggu satu lagi sajak perempuan itu. Entahlah, kata-kata ini mulai kembali rancu. Maafkan narasi yang tak kunjung rampung ini ya, karena saat perempuan itu menarik selembar kertas cokelat dari jurnal sajaknya, ia mulai menuliskan sekata demi sekata yang mungkin patut untuk dibaca.
You ask me why I love him?


Have you ever seen a Kuta sunset?
Besides him, that was the purest and most sacred thing I’ve ever seen


Have you ever drifted on a bayou all down to Toba Lake?
The surroundings was breathtaking, just like his existence


Or watched a cold fog come drifting in Semeru?
It and so does he worth the patience


Have you heard the lullaby of paradise birds calling in the depth of Borneo forests?
Or the chirp of the crickets deep in endless green swirl of Ubud paddi?
The music is addictive and so is his raspy voice


Or do you look with awe and wonder, the shore of Karimun Jawa?
Every particle of both him and the nature intoxicates my soul
And do you think of him when you stroll along a jet above the fluorescent Paris Van Java?


Have you seen a snowflake drifting in Jayawijaya, way up high?
Or seen the sun come blazing down complimenting the blueness of Raja Ampat?
Or felt the soothing contact of Bogor rain on your moist skin?


Being with him, I’ve never felt so alive


You ask me why I love him?
I’ve got a  million reasons why;


He is my beautiful paradise
And I’m not going to deny that he imprisoned me;
Body, heart, and soul.

Ia tersenyum melihat hasil tulisannya. Mungkin, mungkin saja, yang kali ini benar-benar patut untuk dibaca. Begitu pikirnya kala ia kembali ke kamar indekosnya dan menutup buku kenangan tentang sebuah kota indah bersejarah yang dahulu pernah mengisi hari-harinya. Namun satu hal yang ia tau pasti, kekasihnya akan selalu setia menunggu untuknya kembali.

















×××××
Idektatablake production ® September 2016.
Yang kali ini saya tak tau apa namanya. Namun saya sedang menderita amnesia caranya menulis. Maafkan penulis rancu ini karena lama tak jumpa di blog berisi ribuan kata tak bermakna miliknya. Jika boleh sedikit berkata-kata, cerita malam ini diilhami oleh seorang sahabat dan kekasihnya yang cintanya dipisahkan jarak. Dan jika boleh juga bercerita sedikit, kedua sajak yang saya italic adalah dua sajak yang saya curi dari sahabat saya itu. Maaf ya sajaknya saya curi tanpa izin, namun saya harap kamu suka dengan kata-kata nan patah si penulis yang sedang amnesia ini.

Minggu, 25 Desember 2016

Ironi Cinta Pertama.

Dewata, begitu orang menyebutnya. Entah mengapa nama itu terdengar magis dan indah pada saat yang bersamaan. Seakan jika ada seseorang yang menginjakkan kakinya di tempat itu, ia akan menemukan berbagai hal yang belum pernah ia temukan back at home. Seperti namanya, tempat itu ialah tempat dimana para dewa bersamayam dan memberikan keindahan tiada dua bagi semua rakyatnya. Orang bilang sih, nirwana dunia. Dan memang benar begitu adanya, karena lelaki itu pun merasakan hal yang sama dengan tempat magis ini.

Ketika untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tempat ini, lelaki itu selalu berandai-andai jika kelak tempat ini akan menjadi tempat pertemuannya dengan sosok wanita lain nun jauh di sana, dimana ia akan menemukan sosok yang jauh berbeda dengan wanitanya yang dulu, dimana ia akan melarikan diri dari sebuah fakta bahwa hati itu masih terus bergeming di tempat yang sama.

Statis. Diam. Menyedihkan.

Lelaki itu meringis jika ia mengingat hari-hari awalnya di tempat ini. Bagaimana pemikiran-pemikiran seorang penyendiri itu mengapung bebas di lautan pemikiran tak berujung tanpa makna. Dulu ia kerap berpikir tentang begitu banyak hal; tentang kisah cinta kedua orang tuanya yang kini menjadi rumah untuk dirinya kembali, tentang kehilangan yang membuat sosok kecil dalam dirinya mendewasa beberapa tahun lebih cepat, tentang keluarga yang selalu membawa perasaan hangat dalam dada, tentang kawan lama yang begitu cepat berjalan meninggalkan relung hati itu. Anything. Anything that comes across that busy bubble of his mind.

Namun lalu hari-hari monokrom penuh kesendirian dan pemikiran itu mulai terganti dengan warna-warna sederhana yang membuat hidupnya senada lebih bermakna. Pergi dari rumah tidak lantas membuat seseorang kehilangan makna rumah itu sendiri, begitu katanya setiap ia mengingatkan hati miliknya yang mulai merindu. Dan benar saja, mereka yang membuat hari-harinya lebih berwarna serta merta membuat senyum itu lebih sering berkembang, mata itu lebih sering menyala, dan tawa itu lebih sering terdengar. Setidaknya untuk sesaat ia merasa penuh.

Tapi orang-orang itu tidak lantas bisa mengusir pergi pemikiran-pemikiran miliknya. Lelaki itu kerap pergi menyendiri ke pantai manapun yang bisa ia datangi sendiri. Merokok berbatang-batang hingga ia lupa sudah berapa kali ia menghembuskan kepulan tipis asap rokok di bawah langit sore Bali. Menulis beratus-ratus kata dalam jurnal miliknya mengenai berbagai pemikiran yang tak pernah sampai hati ia bagi kepada siapapun. Mendengarkan lagu dari playlist yang ia buat secara acak agar ia bisa merasa dikejutkan dengan lagu-lagu tak terduga itu. Mengingat-ingat kembali sosok cinta pertamanya.

Ah, cinta pertama ya.

Minggu, 24 April 2016

Harapan di Lakey.

Kepenatan otak kala itu hampir saja membuat kepalaku meradang saat kasus yang terakhir kali aku tangani berakhir kegagalan dalam meja persidangan tadi siang. Malam itu, di ruangan berukuran 4 x 4 meter persegi itu, aku hanya bisa manatap miris setumpukkan map berisi kasus-kasus persidangan sebulan terakhir yang harus kurekap dan kuserahkan kepada bagian pembukuan advokat tempatku bekerja. Aku meringis saat menggapai map yang berada di tumpukkan teratas itu dan menghela napas kesal.

Sebagai seorang pengacara, sudah menjadi cita-citaku untuk memenangi setiap kasus dari para klienku. Orang bilang, pekerjaan sebagai pengacara ada pekerjaan terkotor—hanya karena menjadi pengacara ialah membela siapapun klien mereka, salah maupun benar. Namun sesederhana kata membela itulah keinginanku untuk menjadi pengacara berasal. Aku tak pernah benar-benar memusingkan perkataan para sanak saudara yang kerap kali berpikir terlalu dangkal mengenai mimpi yang tengah aku jalani kini. Untukku, membela mereka yang tidak seharusnya bersalah adalah pekerjaan luar biasa hebat di dunia. Berbekal dengan kenangan pahit masa lalu, membela adalah satu hal yang tak pernah membuatku ingin berhenti higga kini.

Atau setidaknya, hingga aku sadar bahwa membela bukanlah pekerjaan mudah.

Aku berhenti sejenak, ketukkan pintu itu seketika membuat pikiranku buyar. Pintu kaca itu terbuka, nampak sesosok lelaki berusia hampir tiga puluhan itu masuk dengan dua gelas plastik putih berlogo hijau bulat ditengahnya. Merasa lega melihat sosok itu, aku segera merebahkan kembali kepalaku yang hampir pecah itu ke sandaran kursiku.

“Nay, udahlah. Gak usah lo pikirin kasus lo yang kalah itu.”

Namanya Genta, seorang atasan sekaligus sahabat di advokat kenamaan ibukota tempatku bekerja. Usianya sudah hampir menginjak kepala tiga, namun hingga kini masih juga belum menemukan sosok belahan jiwa yang selalu ia inginkan. Bertahun-tahun lalu, aku ingat pernah menjadi juniornya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tempat dimana kami berdua lulus. Lucunya, setelah lulus dan melamar pekerjaan, aku kembali menemukannya di tempat ini.

“Ta, masalahnya ini ibu-ibu dia kena KDRT suaminya. Masa iya sih dia minta cerai dan hak asuh anak aja, ujungnya hakim ngasih hak asuh itu ke suaminya yang abusive itu? Gak make sense, Ta.

“Nayara, hidup lo gak kelar hanya karena satu kasus ini lo kalah di persidangan. Gue ngerti keinginan lo untuk membela orang itu gede banget. Tapi apa gue butuh ambil berkas dan ngasih liat seberapa besar jauhnya perbandingan lo menangin kasus dengan saat lo kalah di persidangan?” Genta menyodorkan gelas itu. “Spearmint Greentea kesukaan lo nih, diminum dulu sebelum kepala lo itu beneran pecah.”

Dengan sigap, aku menarik mundur gelas yang ia letakkan di atas mejaku, menyesapnya pelan hingga akhirnya aku mulai merasakan sebagian kecil beban itu terangkat dari pundakku. “Thanks for being my savior for the night, Ta. Gue hargain segelas Spearmint Greentea ini.”

“Oh, gue hampir lupa.” Genta merogoh kantung celananya dan meletakkan selembar kertas persegi panjang berukuran tak lebih dari 10 x 5 cm itu di hadapanku. Aku mengernyit, menatap dengan seksama selembar kertas itu. “Weekend ini, lo berangkat ke Sumbawa.”

“Ada masalah yang harus gue tangani, Ta?”

Genta menggeleng. “Itu tiket pesawat, Nay.”

“Iya, gue tau. Tapi dalam rangka apa?”

“Liburan.”

And that’s the end of our conversation that night. Lusa paginya, Genta sudah menggiringku dari apartemen dengan bekal beberapa helai pakaian yang kujejal asal ke dalam koper dan mengirimku sesegera mungkin ke bandara Soekarno-Hatta.

Rabu, 09 Maret 2016

Analogi Matahari.

Menurutku, tak ada hal yang lebih romantis dari sebuah gerhana. Dua ciptaan Tuhan paling buruk namun juga paling indah pada saat yang bersamaan. Dua ciptaan yang terkadang nampak kasatmata bagi kita, yang terkadang dianggap sebuah angin lalu, namun pada saat yang bersamaan adalah dua hal yang memiliki andil cukup besar dalam perputaran bumi ini. Mereka, dua hal yang berbeda, yang kemarin baru saja kembali bersua setelah ribuan hari lamanya tidak berjumpa. Mereka, dua hal yang berbeda, yang bercumbu dengan begitu indahnya. Mereka adalah sepasang kekasih yang selalu berjalan beriringan, namun tak pernah dipertemukan dalam satu jalan yang sama. Dan sesedih apapun hal ini terdengar, aku sadar bahwa sesedih itulah kisah cinta kita berdua.
Mereka—anak anak kecil yang kita ajar bersama di sebuah taman belajar itu, adalah bumi kita berdua, penonton setia dari matahari dan bulan yang selalu menemani siang dan malam mereka. Mereka, yang biasanya akan riuh redam bersuara saat kamu datang, sontak akan berlarian memelukmu karena merindukan sosok matahari mereka. Taukah kamu? Untuk bumi, kamu adalah matahari—sesuatu yang menerangi bahkan di saat-saat tergelap mereka sekalipun. Taukah kamu? Untuk bulan, kamu adalah pendar cahaya pantulan terindah yang pernah bulan miliki. Dan taukah kamu? Bulan yang kumaksud adalah aku.
Orang bilang, cinta terkadang mempertemukan sepasang manusia yang tepat di saat yang salah. Dan terkadang, cinta pun mempertemukan sepasang manusia yang salah di saat yang tepat, yang kemudian menciptakan sebuah ilusi pikiran di mana semua terasa indah pada waktunya. Dan tau apa? Aku rasa kita ada definisi cinta yang kedua. Aku pikir aku adalah bulanmu, Sayang, yang akan mencumbumu hangat kala nanti gerhana menghampiri, memberi jalan bagi bulan dan matahari untuk bertemu kembali. Namun aku salah. Karena ternyata aku adalah bumi, sesuatu yang tak dapat berhenti menginginkan matahari untuk menyinari. Aku adalah anak-anak kecil itu, Sayang, yang akan berlari ke arahmu dan memelukmu hangat kala kamu kembali ke hadapanku pagi nanti.
Lucu sekali bagaimana bumi tak dapat bertahan tanpa matahari. Pendar cahayamu, tubuh tegap yang terkesan tegas itu, senyum hangat yang mampu melelehkan jiwa itu—taukah kamu bahwa sumber cahaya bumi tak boleh pergi? Namun mengapa saat wanita itu, bulan mu, datang menghampiri kala gerhana terjadi dan mencumbu bibirmu hangat, aku merasa kosong dan sendiri? Seluruh pendar cahayamu seketika redup dari bumiku, terhalang oleh sosok menawan itu.
"Key, gue rasa gue udah gak bisa ngajar lagi di Taman Belajar Ketaki ini." Entah mengapa, ucapan itu serasa petir yang menyambar bumi dan menyakiti bagian terdalam sang bumi.
Matahari, kamu tak boleh pergi.

Rabu, 17 Februari 2016

Adelaide Sky.

Jalan-jalan kota Adelaide mulai dipadati manusia hari itu. Banyak dari mereka yang ingin datang dan berkunjung ke WOMAdelaide, salah satu pagelaran musik, seni, dan budaya terbesar di dunia yang diadakan setiap tahunnya di Adelaide. Botanic Park of Adelaide, yang berada tepat di jantung kota, tak kalah ramainya dengan sudut-sudut jalan kota lainnya. Langit Kota Adelaide yang sepagian tadi masih begitu cerah membiru entah mengapa kini berubah kelabu. Banyak pasak-pasak tenda didirikan demi menahan hujan yang mungkin akan segera tiba mengguyur.

Karena tengah menunggu malam tiba untuk menonton acara musik yang akan diisi oleh berbagai musisi, aku memilih untuk bersantai di sebuah kedai di persimpangan Rundle St. yang jaraknya tak jauh dari Botanic Park tempat dimana festival musik akan berlangsung. Sepagian aku datang dan terduduk gelisah, berharap cemas tentang kemungkinan aku akan menemukannya atau tidak di tempat ini. Aku sendiri sebenarnya tak tau apa yang tengah aku lakukan di tempat ini, jauh dari rumah, jauh dari sahabat, jauh dari zona amanku.

Namun saat tau dirinya akan berada di panggung pagelaran musik WOMAdelaide, aku segera membeli tiket penerbangan tercepat dari Melbourne. Dan di sinilah diriku hari ini, berpikir tentang kemungkinan apakah benar ia dan kawan-kawannya akan mengisi acara atau tidak. Telepon genggam yang sepagian berdering karena teman-temanku yang khawatir itupun akhirnya berhenti juga karena baterai yang mulai melemah. Alhasil, aku hanya bisa puas dengan secangkir kopi hitam plain kesukaanku, sebuah jurnal yang biasa menemani hari-hariku menulis, serta beberapa puluh dollar dalam tas Deuter tua yang kerapkali menemani perjalanan tak terdugaku menuju antah berantah.

See you one day, Nya. Mungkin saat gitar tua ini udah bisa buktiin kalo gue pantes buat elo. One day.

Tiga kalimat. Lima belas kata. Tujuh puluh satu karakter. Satu pesan singkat yang tak pernah aku lupa isinya sejak lima tahun lalu, sejak keberangkatanku ke Melbourne untuk pertama kalinya, sejak kali terakhir aku menginjakkan kaki di kota yang membesarkan dan mempertemukanku dengan dirinya, sejak entah sudah berapa lama kali terakhir aku mendengar kabar tentangnya. Oh, kabar mengenainya memang kudapat beberapa waktu lalu, dari seorang sahabat lama di Jakarta yang kembali mengirimiku surel sejak entah kapan terakhir kalinya. Ia bilang, sosok itu telah menjelma menjadi seorang musisi dalam negeri yang dielu-elukan para remaja karena ketampanannya. Katanya, sosoknya telah berubah menjadi musisi bertalenta yang tak pernah habis ide akan musik-musik cemerlangnya. Katanya, sosok itu telah lama digosipkan menyendiri karena tengah menunggu seseorang kembali. Namun dari semua "katanya", apa itu mengusik pikiranku?

Tentu saja.

Senin, 07 September 2015

Kamu dan Sebuah Definisi Tentang Rumah.

Aku menemukannya di sana, di tempat yang paling tak terduga. Pemilik tulang rusukku itu, nyatanya merupakan sosok yang tak pernah kusangka sebelumnya. Di sebuah pantai tak terjamahi itu, aku menemukannya.
Menurutku semua itu lucu, bagaimana konsep belahan jiwa itu sebenarnya nyata adanya. Yang tak pernah kita sangka adalah fakta bahwa sebenarnya sosok itu kerap kali lebih dekat dari yang kita bayangkan. Untukku sendiri, ingatan itu masih sesegar luka yang tersiram alkohol—menyakitkan namun menenangkan pula pada saat yang bersamaan.
Kala itu, deru ombak yang terhempas oleh terumbu karang menciptakan alunan senandung malam yang indah, menemani langkah-langkah patahku yang merindu. Aku rindu rumah, itulah satu-satunya hal yang terlintas di otakku. Sebagai seorang jurnalis untuk laman pariwisataku, jelas aku menghabiskan sebagian besar waktuku di luar rumah. Dan walau kecintaanku terhadap apa yang aku jalani ini begitu besar, tak ada yang bisa mengalahkan perasaan hangat saat aku berada di rumah.
Malam itu, aku terus menitikan langkahku di sepanjang bibir pantai, berandai-andai dan membangun skenario tentang kembaliku ke rumah yang hanya akan eksis dalam benak ini saja. Semenjak kepergian Ibu, aku tak pernah berminat untuk kembali pulang. Terlebih dengan keberadaan lelaki yang seumur-umurku hidup adalah lelaki pertama yang menyakitiku dan Ibu, aku selalu enggan untuk menginjakkan kaki kembali untuk pulang.
Namun aku merindu. Perasaan hangat kala menggenggam daun pintu rumah untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan lamanya tak pulang, perasaan hangat kala mencium aroma masakan ibu, perasaan hangat kala menyesap teh sore bersama Tante Nung di teras rumah—semua perasaan itulah yang selalu kurindu, perasaan saat kembali pulang. Dan entah sudah berapa lama, perasaan itu tak pernah lagi bisa kutemukan setelah kepergian Ibu.
Malam terus melarut, menyisakan aroma pasir basah yang kian pekat. Di tempat seindah Pulau Samalona ini, aku masih tak dapat menemukan alasan untuk kembali pulang. Mungkin benar aku rindu rumah, tapi aku lebih merindukan dekapan sosok yang akan menyapaku hangat saat kembali pulang. Dan seindah apapun tempat yang kupijaki kini, tak ada yang bisa mengalahkan perasaan kembali pulang.
"Mba?" Suara itu serta merta membuatku melompat karena kaget. Malam sudah hampir menunjukkan pukul 10, jangan salahkan aku jika aku tidak berekspektasi tentang keberadaan orang baru.

Minggu, 14 Juni 2015

Through The Ashes.

Senja di kota Denpasar terasa begitu indah saat hiruk pikuk keramaian mulai mengendurkan kehidupannya. Nampak diberbagai sisi jalan tergeletak sesajen yang merupakan persembahan untuk para leluhur dari para warganya. Pun juga dedaunan tua dari ranting pohon mulai berguguran menandakan kelelahannya akan hiruk pikuk keramaian kota Denpasar di kala senja.
Di jalan setapak daerah Legian itu, aku tetap menyusuri jalanku tanpa mengindahkan sekitar, membiarkan diri ini nampak kabur di balik banyaknya turis mancanegara maupun domestik yang berlalulalang. Dari tempatku terus berjalan, nampak sebuah pantai indah yang terkenal dengan sunset nya yang semakin kudekati semakin memberikan kerinduan yang mendalam dalam dada. Dan saat langkahku berhenti di depan pintu masuknya, aku menghela napas pelan, berharap tak ada rindu yang berubah menjadi sendu.
Senja hari itu sedikit demi sedikit telah membuat air laut menjadi pasang, memaksa kami para turis untuk tetap pada jarak aman. Dan aku, ketimbang menyusuri sepanjang bibir pantai sendirian, aku lebih memilih untuk duduk di atas pasir dan menyaksikan fenomena terbenamnya matahari yang begitu indah. Dengan sebuah buku catatan perjalananku, aku kembali siap merekam semua perjalanan yang telah aku lalui.
Hai sayangku,
Apa kabar? Ingat Pantai Kuta? Hari ini akhirnya aku kembali kemari, merasakan gejolak kerinduan akan hadirnya kamu di sini. Pantai Kuta tetap terasa indah walau keindahan itu terasa hambar tanpa hadirnya kamu. Aku merindu, sayangku. Sedetik... Dua detik... Tiga detik... Tak pernah ada waktu sedetikpun yang tak aku lewatkan tanpa memikirkan kamu, sayangku. Maaf, keterlambatanku untuk datang kemari membuat tubuh mu pun terlambat memulai perjalanan panjangmu yang tiada akhir untuk menyusuri seisi dunia ini. Beberapa bulan yang kuhabiskan sebelum memberanikan diri kesini semata mata kugunakan untuk menenangkan diri. Bagaimana bisa kulepaskan kamu sendiri berkelana tanpa aku sebagai partner perjalananmu? Namun sayangku, kujanjikan kamu akan kebebasan nanti malam. Beberapa jam saja, sebelum aku benar benar membebaskanmu berkelana seperti persis yang kamu inginkan dalam wasiatmu itu. Dan oh sayangku, jangan lupa tunggu aku ya. Karena akupun akan segera menyusulmu.
Salam hangat dari Kuta,
Adelia.

Senin, 25 Mei 2015

Coincidence in The Rain.

Hari itu, lagi-lagi hujan kembali turun membasahi ibukota Jakarta tercinta, membuat kami para pekerja kewalahan bagaimana harus pulang. Di pertengahan bulan Juli seperti ini, seharusnya matahari bersinar cerah tanpa tertutupi awan kelabu yang membuat semua jiwa gelisah. Walau sejujurnya aku pun merupakan salah seorang pecinta hujan, namun lama kelamaan akupun meragu akan kebahagiaan yang hujan bawa untukku.
Aku menengadahkan kepalaku, memerhatikan betapa derasnya hujan mengguyur ibukota, membuat seluruh isi kota seakan membeku karena hujannya yang menghentikan aktivitas kami semua. Dulu sekali, saat aku masih kecil, aku selalu mempercayai cerita Ayah tentang hujan yang akan selalu membawa kedamaian juga kebahagiaan bagi siapa saja yang sabar dan mempercayainya. Dulu sekali, aku selalu mempercayai perihal hujan yang akan membawa pergi tangisan juga kesedihan dan menggantinya dengan sebuah kegembiraan yang baru di balik pelangi itu.
Namun, semenjak hari itu sosoknya meninggalkanku sendiri terperangkap dalam hujan yang begitu deras, aku mulai berfikir bahwa hujan hanya akan membawa bencana bagi jiwa-jiwa yang rapuh dan malang. Derasnya hujan hari itu serasa ribuan jarum yang menusuk tubuhku. Dinginnya hujan hari itu serasa begitu tajam menusuk pori-poriku. Walau hujan membuat tangisanku saru, aku tetap merasakan sakit yang begitu menusuk hingga aku sendiri merasa kelu seakan mati rasa.
Semenjak itu, aku selalu bersembunyi ketika hujan datang. Seakan sedang bermain kejar-kejarn, aku tak pernah ingin tertangkap oleh hujan yang pada akhirnya hanya dapat membuatku terperangkap dalam dinginnya hawa yang ia bawa. Terkadang aku sendiri sedih mengingat fakta, bagaimana dahulu hujan adalah satu-satunya temanku dikala aku merindu serta sendu, namun hanya karena sosoknya yang meninggalkanku di tengah hujan yang deras, semua perspektifku mengenai hujan berubah seketika begitu saja.
Aku melirik jam tanganku yang ternyata telah menunjukkan pukul 5:30 sore. Belum terlalu gelap seharusnya, namun awan kelabu sore itu menutupi sinar mentari yang aku butuhkan. Karena takut akan pulang kemalaman, aku pun mulai menerjang hujan. Sekali ini saja, bertahanlah. Kurapalkan ucapan itu berkali kali dalam hati, hanya untuk menguatkanku agar tidak mengingat rasa sakit yang pernah kurasakan dahulu karena perbuatan hujan sialan. Selangkah… dua langkah… tiga langkah… hingga akhirnya aku serasa sedang menari bersama hujan, aku mulai memperlambat kecepatan berlariku, hingga akhirnya aku benar-benar berhenti di tengah hujan yang deras itu.
Rasanya masih sama, sakit karena rintik hujan yang menderas itu serasa menusuk seluruh permukaan kulitku. Begitu juga hawa dingin yang ia bawa, selalu berhasil menusuk seluruh pori-poriku. Namun jika memang sebegini sakitnya, mengapa aku berhenti? Sejenak, aku dapat merasakan air mata itu kembali mengalir bebas. But guess what, this is the perk of crying in the rain, hujan akan membuat saru tangisanmu dan membawanya pergi tanpa jejak bersamanya.

Jumat, 22 Mei 2015

Untitled.

But he was just a boy, standing in the light of my way
Turning my life upside down with no warning
Pertemanan itu dimulai jauh sebelum hari-hari seragam putih abu-abu mendominasi kehidupan remajaku. Ia hanyalah seorang bocah lelaki yang kebetulan pergi ke tempat les yang sama denganku. Tidak pernah sekalipun ia mengucapkan sesuatu jika tidak ditanya oleh para pengajar. Namun tanpa disangka, persahabatan itu mulai tumbuh begitu saja saat kami bertabrakan di lorong gedung. Klise memang, namun semua itu mengalir begitu saja tanpa adanya paksaan. Ucapan permintaan maaf itupun tentu saja terlontar dari mulutnya. Dan entah bagaimana ceritanya, kami mulai sering berbicara.
Lucu memang jika mengingat bagaimana indahnya memiliki sahabat. Kisah suka maupun duka tentu kami bagi bersama. Bagaikan seorang teman yang telah mengenal sejak lahir, kami segera menjadi dua teman yang tak terpisahkan. Walaupun hanya dapat dipertemukan tiga hari dalam seminggu dan dua jam sekali sesi pertemuan, kami selalu memiliki cara kami masing-masing untuk menghabiskan waktu bersama. Mulai dari ngopi bareng di kedai favorit seusai les, hingga janjian untuk belajar bersama hingga larut malam. Begitu banyak cerita yang tak luput aku ceritakan kepadanya. Dengan kepribadiannya sebagai pendengar yang baik, jelas itu menjadi sebuah nilai tambah dalam persahabatan kami.
Hingga akhirnya kami lulus dan masuk ke sekolah yang sama, tak urungnya kami merasakan euforia kebahagiaan tersebut. Mulai sekarang kita sama-sama terus ya. Tak pernah aku lupa ucapannya yang begitu tulus, seakan menginginkan aku untuk tetap berada di dekatnya. Dan tolong jangan tanyakan aku bila aku menyayanginya lebih dari yang seharusnya, karena aku tidak ingin merusak segalanya. Hari demi hari berlalu tanpa lupa ia mewarnainya. Semua kenangan manis itu, mulai dari cabut sekolah seperti kebanyakan anak sekolahan jaman sekarang lakukan, hingga curhatan lewat tengah malam pun seakan menjadi bukti akan kenangan persahabatan kami tersebut.
Sampai hari itu tiba, aku ingat, di hari ulangtahunku yang ketujuh belas, seorang teman menarik kami ke lapangan dan berpura-pura menjadi seorang penghulu yang menikahkan kami. Rupawan, pintar, taat agama, penyayang orangtua, perhatian, apa lagi yang kurang? Sosoknya begitu sempurna hingga aku lupa jika di muka bumi ini tak ada yang sempurna selain Allah Sang Maha Pencipta. Namun sosoknya hampir mendekati kesempurnaan dan begitu banyak yang menyukainya. Hingga hari itu, tepat di titik itu, aku kembali bertanya kepada diri sendiri, apakah aku menyayanginya lebih dari yang seharusnya? Karena jika memang iya, seharusnya aku menyadari itu sejak awal.
Dist, nanti kalo gue udah mapan udah sukses, kita nikah beneran ya.

Selasa, 19 Mei 2015

Berbeda.

Allah mempertemukan belum tentu untuk dipersatukan, terkadang kita hanya ditakdirkan untuk bertemu di persimpangan jalan.
Seperti halnya rangkaian listrik, aku pikir kita sama menyedihkannya. Bagaikan rangkaian paralel, yang memiliki banyak kesamaan, namun tidak pernah dipersatukan. Sedih bukan? Namun kita adalah rangkaian yang lainnya, yang bertemu sekali di persimpangan jalan, namun tidak pernah lagi dipertemukan selamanya, bahkan tidak untuk dipersatukan. Lebih menyedihkan bukan?
Hari-hari saat perjalanan kita masih terus berlanjut adalah hari-hari terindah untukku. Bagaimana tidak? Saat itu kita baru saja mengenal, namun rasanya bagaikan kita sudah mengenal sejak lahir. Klise memang, tapi apalah arti sebuah kebahagiaan jika pada akhirnya dipisahkan?
Kamu yang wajahnya tak pernah hentinya bersinar. Kamu yang senyumnya tak pernah hentinya merekah. Kamu yang jiwanya tak pernah hentinya berkelana. Kamu, juga sebuah ransel yang ada di punggungmu itu, adalah saksi atas apa yang telah kita lalui bersama. Dan tempat-tempat yang kita kunjungi bersama hari itu, tidak akan pernah aku lupakan.
Dua minggu dan semuanya berakhir.

Senin, 20 April 2015

The Photograph.

I’m never really a big fan of crowded places.
Namun karena sudah terlalu sering menolak undangan Andra, sahabat gue dari jaman SMA, kali ini mau nggak mau gue dateng ke new year’s eve party yang selalu diadakan Keluarga Widjajanto setiap tahunnya. Entah sudah berapa puluh kali gue menolak undangan Andra untuk datang ikut serta dalam acara itu, namun setelah gue pikir-pikir mungkin nggak ada salahnya untuk datang dan ikut serta dalam euforia kebahagiaan menyambut tahun baru. Dan menurut gue Andra benar karena gue memang sudah terlalu lama menyendiri dengan ratusan kamera koleksi Almarhum Ayah. Bahkan gue sempat berpikir kalau gue berubah menjadi gay karena sudah terlalu lama tidak berbaur dengan manusia sekitar gue. Jadi malam itu, gue putuskan untuk datang.
Tapi sesaat setelah gue menginjakkan kaki di depan sebuah rumah besar kediaman Keluarga Widjajanto, gue segera menyesali keputusan gue malam itu. Mungkin memang sudah dari sananya seorang Andi Supriyo lebih suka menyendiri dengan koleksi kameranya, juga dengan ruang gelap miliknya. Karena setelah gue melihat banyaknya manusia yang berlalu lalang masuk ke dalam rumah besar itu, gue segera meringis. Sebagai seorang pecinta fotografi, gue lebih menyukai ketenangan ketimbang keramaian. Karena dengan ketenangan, gue lebih mudah mengabadikan sebuah momen yang menurut gue memang patut untuk diabadikan.
“Akhirnya lo dateng juga, Ndi!” Andra yang melihat gue dari kejauhan segera berjalan menghampiri dan memeluk gue layaknya seorang teman yang lama tak jumpa. Nyatanya, Andra adalah partner in crime gue dalam setiap acara hunting tempat. “Gimana hasil foto lo kemaren di Kota Tua?”
Lagi-lagi, gue meringis. “Udah sering banget kita ke sana dan hasil foto yang gue dapet selalu plain seperti waktu kita pertama kali hunting ke sana. You know, same old.
Andra hanya menjawabnya dengan gelak tawa khas miliknya. “Man, lo cuma belum nemuin obyek indah untuk lo potret dengan setting Kota Tua itu sendiri. Percaya deh, waktu lo udah nemuin obyek yang gue maksud itu, lo bakal ngerasa Kota Tua adalah tempat paling indah.”
Keluarga Widjajanto adalah keluarga kalangan atas yang sangat dikenal dengan keberhasilan setiap anaknya dalam segala bentuk bidang artistik yang mereka geluti. Pak Anton Widjajanto, ayah dari Andra sendiri adalah seniman lawas kenamaan yang namanya begitu tersohor seantero negeri. Jadi gak heran, kalau gue sebenarnya masih harus belajar banyak dari Andra yang memang basic-nya berasal dari keluarga artistik.
“Eh Ndi, gue tinggal lo sebentar ya? Kayaknya nyokap manggil gue tuh di sana.” Andra menepuk pundak gue pelan. “Have fun, ok?” gue pun mengangguk pelan, membiarkan sosok Andra menghilang begitu saja di balik kerumunan manusia lalu lalang yang semuanya asing buat gue.
Di tengah sesaknya kerumunan itu, gue seakan ikut membaur dengan banyaknya manusia yang hadir malam itu. Kolega-kolega Keluarga Widjajanto itu semuanya berpakaian rapi layaknya artis papan atas yang datang ke sebuah perhelatan agung. Dan gue rasa memang hanya gue aja yang mengenakan polo shirt putih polos gue, juga celana jeans kesayangan yang udah entah berapa lama belum gue laundry, dan tidak lupa Converse butut yang gak pernah sampai hati gue buang sampai saat ini. Inilah gue, Andi Supriyo, seorang introvert yang lebih suka menghabiskan waktu gue dalam kesendirian, bukan dalam keramaian seperti malam ini.
Namun kemudian pandangan ini tertuju pada seseorang di atas stage sana. Seseorang berperawakan ramping, dengan pakaian boho nya yang membuat dirinya  seperti pusat perhatian, juga flower crown yang ia kenakan di kepalanya. Perempuan itu—dengan atraktifnya—menyanyikan lagu The 1975 yang Sex. Wow, gue rasa ekspresi gue memang berlebihan, tapi entah kenapa gue ngerasa cewe ini salah tempat. Salah tempat untuk menyanyikan lagu ini. Salah tempat juga dalam berpakaian. This is definitely not Coachella, girl. Itulah satu-satunya hal yang terlintas di otak gue saat itu. But man, I’ll admit she has this rare kind of beauty.
Semua hadirin yang datang bertepuk tangan saat perempuan itu telah usai bernyanyi, membungkukkan tubuhnya memberi hormat terima kasih kemudian kembali mendekatkan microphone itu ke depan mulutnya dan berkata, “Happy New Year, guys!” Dan semudah itulah, setelahnya ia turun dari panggung digantikan oleh rekannya sesama penyanyi yang lain. Dan entah mengapa, sebegitu mudah pula tubuh ini menyeret gue untuk menemui perempuan itu.
“Hei!” ucap gue dengan awkward-nya saat perempuan hippie itu tengah menenggak sebotol air mineralnya. “Gue Andi.”
Really, Ndi? Selama itukah lo udah gak bersosialisasi sama orang sampai harus segitu bodohnya?
Dalam hati, gue menampar diri keras-keras karena kebodohan gue dalam memilih kata-kata. Namun perempuan itu dengan sumringahnya membalas ucapan gue dengan senyum dan berkata, “Hai, Andi! Aku Kallista.”
And that happened. I swear to God, that just happened.