Tampilkan postingan dengan label one shot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label one shot. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

Adelaide Sky.

Jalan-jalan kota Adelaide mulai dipadati manusia hari itu. Banyak dari mereka yang ingin datang dan berkunjung ke WOMAdelaide, salah satu pagelaran musik, seni, dan budaya terbesar di dunia yang diadakan setiap tahunnya di Adelaide. Botanic Park of Adelaide, yang berada tepat di jantung kota, tak kalah ramainya dengan sudut-sudut jalan kota lainnya. Langit Kota Adelaide yang sepagian tadi masih begitu cerah membiru entah mengapa kini berubah kelabu. Banyak pasak-pasak tenda didirikan demi menahan hujan yang mungkin akan segera tiba mengguyur.

Karena tengah menunggu malam tiba untuk menonton acara musik yang akan diisi oleh berbagai musisi, aku memilih untuk bersantai di sebuah kedai di persimpangan Rundle St. yang jaraknya tak jauh dari Botanic Park tempat dimana festival musik akan berlangsung. Sepagian aku datang dan terduduk gelisah, berharap cemas tentang kemungkinan aku akan menemukannya atau tidak di tempat ini. Aku sendiri sebenarnya tak tau apa yang tengah aku lakukan di tempat ini, jauh dari rumah, jauh dari sahabat, jauh dari zona amanku.

Namun saat tau dirinya akan berada di panggung pagelaran musik WOMAdelaide, aku segera membeli tiket penerbangan tercepat dari Melbourne. Dan di sinilah diriku hari ini, berpikir tentang kemungkinan apakah benar ia dan kawan-kawannya akan mengisi acara atau tidak. Telepon genggam yang sepagian berdering karena teman-temanku yang khawatir itupun akhirnya berhenti juga karena baterai yang mulai melemah. Alhasil, aku hanya bisa puas dengan secangkir kopi hitam plain kesukaanku, sebuah jurnal yang biasa menemani hari-hariku menulis, serta beberapa puluh dollar dalam tas Deuter tua yang kerapkali menemani perjalanan tak terdugaku menuju antah berantah.

See you one day, Nya. Mungkin saat gitar tua ini udah bisa buktiin kalo gue pantes buat elo. One day.

Tiga kalimat. Lima belas kata. Tujuh puluh satu karakter. Satu pesan singkat yang tak pernah aku lupa isinya sejak lima tahun lalu, sejak keberangkatanku ke Melbourne untuk pertama kalinya, sejak kali terakhir aku menginjakkan kaki di kota yang membesarkan dan mempertemukanku dengan dirinya, sejak entah sudah berapa lama kali terakhir aku mendengar kabar tentangnya. Oh, kabar mengenainya memang kudapat beberapa waktu lalu, dari seorang sahabat lama di Jakarta yang kembali mengirimiku surel sejak entah kapan terakhir kalinya. Ia bilang, sosok itu telah menjelma menjadi seorang musisi dalam negeri yang dielu-elukan para remaja karena ketampanannya. Katanya, sosoknya telah berubah menjadi musisi bertalenta yang tak pernah habis ide akan musik-musik cemerlangnya. Katanya, sosok itu telah lama digosipkan menyendiri karena tengah menunggu seseorang kembali. Namun dari semua "katanya", apa itu mengusik pikiranku?

Tentu saja.

Senin, 07 September 2015

Kamu dan Sebuah Definisi Tentang Rumah.

Aku menemukannya di sana, di tempat yang paling tak terduga. Pemilik tulang rusukku itu, nyatanya merupakan sosok yang tak pernah kusangka sebelumnya. Di sebuah pantai tak terjamahi itu, aku menemukannya.
Menurutku semua itu lucu, bagaimana konsep belahan jiwa itu sebenarnya nyata adanya. Yang tak pernah kita sangka adalah fakta bahwa sebenarnya sosok itu kerap kali lebih dekat dari yang kita bayangkan. Untukku sendiri, ingatan itu masih sesegar luka yang tersiram alkohol—menyakitkan namun menenangkan pula pada saat yang bersamaan.
Kala itu, deru ombak yang terhempas oleh terumbu karang menciptakan alunan senandung malam yang indah, menemani langkah-langkah patahku yang merindu. Aku rindu rumah, itulah satu-satunya hal yang terlintas di otakku. Sebagai seorang jurnalis untuk laman pariwisataku, jelas aku menghabiskan sebagian besar waktuku di luar rumah. Dan walau kecintaanku terhadap apa yang aku jalani ini begitu besar, tak ada yang bisa mengalahkan perasaan hangat saat aku berada di rumah.
Malam itu, aku terus menitikan langkahku di sepanjang bibir pantai, berandai-andai dan membangun skenario tentang kembaliku ke rumah yang hanya akan eksis dalam benak ini saja. Semenjak kepergian Ibu, aku tak pernah berminat untuk kembali pulang. Terlebih dengan keberadaan lelaki yang seumur-umurku hidup adalah lelaki pertama yang menyakitiku dan Ibu, aku selalu enggan untuk menginjakkan kaki kembali untuk pulang.
Namun aku merindu. Perasaan hangat kala menggenggam daun pintu rumah untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan lamanya tak pulang, perasaan hangat kala mencium aroma masakan ibu, perasaan hangat kala menyesap teh sore bersama Tante Nung di teras rumah—semua perasaan itulah yang selalu kurindu, perasaan saat kembali pulang. Dan entah sudah berapa lama, perasaan itu tak pernah lagi bisa kutemukan setelah kepergian Ibu.
Malam terus melarut, menyisakan aroma pasir basah yang kian pekat. Di tempat seindah Pulau Samalona ini, aku masih tak dapat menemukan alasan untuk kembali pulang. Mungkin benar aku rindu rumah, tapi aku lebih merindukan dekapan sosok yang akan menyapaku hangat saat kembali pulang. Dan seindah apapun tempat yang kupijaki kini, tak ada yang bisa mengalahkan perasaan kembali pulang.
"Mba?" Suara itu serta merta membuatku melompat karena kaget. Malam sudah hampir menunjukkan pukul 10, jangan salahkan aku jika aku tidak berekspektasi tentang keberadaan orang baru.

Jumat, 13 September 2013

Happy Birthday Niall.


Lately, I was distracted by the whole school stuff that made me kind of distant with my lovely laptop and all the things I love on the net. I got myself to bed around 9 pm and had to wake up around 4:30 am and that became a cycle for the whole week. I didn't know what I was doing. Nor did I know what I was thinking. All I could think about is how I need to get good grades to make my mom proud of me. But when it comes to Friday.... I think I can take a break for a moment. Right now, it's currently 9:45 pm and I think I need to post something in this thing [read: my blog] so yeah, today I decide to make a little rant about Niall James Horan whose birthday is today. Niall, wherever you are, whatever you're currently thinking about, I just hope that you are okay and that you are fine and that you are happy and living your life to the fullest because your happiness is all I could ask for. Niall, this one's for you...

If you ask me what song I always listen to lately, Never Grow Up by Taylor Swift would be a perfect answer because that's simply the song I listen to over and over again lately. I know that this is an old song by Ms. Swift but when few days ago I refreshed my Taylor Swift page, this song literally caught my eyes. Slowly, I put it on the playlist of my music player. And slowly, this song brought me back to the past. You know, this song tells a story about someone who doesn't want the one she loves to grow up and move on from things. This song tells about an anxiety and fear of growing up and getting old. And truth to be told, I've always been that kind of person. I don't want to grow up because growing up means more problems and more time to work and less happiness. And I never want that to happen.

Usually, people grow up and they will forget things. Like when you were little and you always danced in your pj's before getting to bed, and when you were on your first day of middle school that you were so nervous you didn't even want to eat, and when you were on your prom night dancing along with your date... truth to be told, as time goes by and as you grow up, you'll simply forget those things. Those will be just another sweet moments that simply will be forgotten. I know somehow people need to grow up. But why should forget those beautiful moments when you can always remember that? I am also that kind of girl who has fear to be forgotten. Yes, I never want to be forgotten because I know how hurt that feeling is. It's like you are just an old toy that as time passes by, will be replaced by the new one. And believe me, the feeling is sucks. Being forgotten is like your existence is just no longer there, that no one ever knew you exist, that you're just never here. Horrible, right? Yeah, it totally is.

Old saying said, "people come and go, but only true friends leave their footprints in your heart."

Truth to be told, I've always loved that one quotation. It just describes me so much that I know I have bunch of friends, and family, and just good people in my life, that when I'm on my up's, they will be there for me and say like, "yeah I will never leave you here alone, even when you're on your down's" but then leave me when I'm on my down's. I think it's so sad that those who promised to never leave are actually the ones that left without any clue. Those who claimed that they are my true friends are actually the ones who are so fake I don't even know how I could trust them at the first place. But I need to admit, out of all that, when I first knew One Direction, I just knew that they are not gonna leave me like those other people did to me. And I was right. One Direction has never left me for any moment.

Sabtu, 24 Agustus 2013

First Post: What If.





Sometimes, I wish I could wake up in the morning, finding you on the right side of my bed and smiling over you angelic face like I used to. Sometimes, I wish I could make a breakfast for you, waiting you taking a bath then having breakfast together like we used to. Sometimes, I wish I could play, pause, and rewind in the same time, wishing you’d be here like you used to. Sometimes, I simply wish that you’d come back to me even though I clearly know you won’t.

You know, I thought I’d be okay when you left me that day. I mean, we’ve walked in a different way and I know for sure that’s what makes us so different. Last night, I did my routine activities like usual, getting back home from work, driving in silence, letting myself drown in my mind, and stopping my car right in front of that house with blue roof.

We bought this house together. You once called it as “our house” but it wasn’t for a long time. You did pay for the first payment to the real estate but I paid for the second payment even though you told me not to. We lived this house together, so we should’ve paid this house together. Do you remember—in the mid May—we finally finished the last payment and we moved along to this house together? I should say, I miss the words of “together” and “us”.