Jalan-jalan kota
Adelaide mulai dipadati manusia hari itu. Banyak dari mereka yang ingin datang
dan berkunjung ke WOMAdelaide, salah satu pagelaran musik, seni, dan budaya
terbesar di dunia yang diadakan setiap tahunnya di Adelaide. Botanic Park of Adelaide,
yang berada tepat di jantung kota, tak kalah ramainya dengan sudut-sudut jalan
kota lainnya. Langit Kota Adelaide yang sepagian tadi masih begitu cerah
membiru entah mengapa kini berubah kelabu. Banyak pasak-pasak tenda didirikan
demi menahan hujan yang mungkin akan segera tiba mengguyur.
Karena tengah menunggu
malam tiba untuk menonton acara musik yang akan diisi oleh berbagai musisi, aku
memilih untuk bersantai di sebuah kedai di persimpangan Rundle St. yang
jaraknya tak jauh dari Botanic Park tempat dimana festival musik akan
berlangsung. Sepagian aku datang dan terduduk gelisah, berharap cemas tentang
kemungkinan aku akan menemukannya atau tidak di tempat ini. Aku sendiri
sebenarnya tak tau apa yang tengah aku lakukan di tempat ini, jauh dari rumah,
jauh dari sahabat, jauh dari zona amanku.
Namun saat tau dirinya
akan berada di panggung pagelaran musik WOMAdelaide, aku segera membeli tiket
penerbangan tercepat dari Melbourne. Dan di sinilah diriku hari ini, berpikir
tentang kemungkinan apakah benar ia dan kawan-kawannya akan mengisi acara atau
tidak. Telepon genggam yang sepagian berdering karena teman-temanku yang
khawatir itupun akhirnya berhenti juga karena baterai yang mulai melemah.
Alhasil, aku hanya bisa puas dengan secangkir kopi hitam plain kesukaanku, sebuah jurnal yang biasa menemani hari-hariku
menulis, serta beberapa puluh dollar dalam tas Deuter tua yang kerapkali
menemani perjalanan tak terdugaku menuju antah berantah.
See
you one day, Nya. Mungkin saat gitar tua ini udah bisa buktiin kalo gue pantes
buat elo. One day.
Tiga kalimat. Lima
belas kata. Tujuh puluh satu karakter. Satu pesan singkat yang tak pernah aku
lupa isinya sejak lima tahun lalu, sejak keberangkatanku ke Melbourne untuk
pertama kalinya, sejak kali terakhir aku menginjakkan kaki di kota yang
membesarkan dan mempertemukanku dengan dirinya, sejak entah sudah berapa lama
kali terakhir aku mendengar kabar tentangnya. Oh, kabar mengenainya memang
kudapat beberapa waktu lalu, dari seorang sahabat lama di Jakarta yang kembali
mengirimiku surel sejak entah kapan terakhir kalinya. Ia bilang, sosok itu
telah menjelma menjadi seorang musisi dalam negeri yang dielu-elukan para
remaja karena ketampanannya. Katanya, sosoknya telah berubah menjadi musisi
bertalenta yang tak pernah habis ide akan musik-musik cemerlangnya. Katanya,
sosok itu telah lama digosipkan menyendiri karena tengah menunggu seseorang
kembali. Namun dari semua "katanya", apa itu mengusik pikiranku?
Tentu saja.

