I’m never really a big fan of crowded places.
Namun karena sudah terlalu sering menolak undangan Andra, sahabat gue dari jaman SMA, kali ini mau nggak mau gue dateng ke new year’s eve party yang selalu diadakan Keluarga Widjajanto setiap tahunnya. Entah sudah berapa puluh kali gue menolak undangan Andra untuk datang ikut serta dalam acara itu, namun setelah gue pikir-pikir mungkin nggak ada salahnya untuk datang dan ikut serta dalam euforia kebahagiaan menyambut tahun baru. Dan menurut gue Andra benar karena gue memang sudah terlalu lama menyendiri dengan ratusan kamera koleksi Almarhum Ayah. Bahkan gue sempat berpikir kalau gue berubah menjadi gay karena sudah terlalu lama tidak berbaur dengan manusia sekitar gue. Jadi malam itu, gue putuskan untuk datang.
Tapi sesaat setelah gue menginjakkan kaki di depan sebuah rumah besar kediaman Keluarga Widjajanto, gue segera menyesali keputusan gue malam itu. Mungkin memang sudah dari sananya seorang Andi Supriyo lebih suka menyendiri dengan koleksi kameranya, juga dengan ruang gelap miliknya. Karena setelah gue melihat banyaknya manusia yang berlalu lalang masuk ke dalam rumah besar itu, gue segera meringis. Sebagai seorang pecinta fotografi, gue lebih menyukai ketenangan ketimbang keramaian. Karena dengan ketenangan, gue lebih mudah mengabadikan sebuah momen yang menurut gue memang patut untuk diabadikan.
“Akhirnya lo dateng juga, Ndi!” Andra yang melihat gue dari kejauhan segera berjalan menghampiri dan memeluk gue layaknya seorang teman yang lama tak jumpa. Nyatanya, Andra adalah partner in crime gue dalam setiap acara hunting tempat. “Gimana hasil foto lo kemaren di Kota Tua?”
Lagi-lagi, gue meringis. “Udah sering banget kita ke sana dan hasil foto yang gue dapet selalu plain seperti waktu kita pertama kali hunting ke sana. You know, same old.”
Andra hanya menjawabnya dengan gelak tawa khas miliknya. “Man, lo cuma belum nemuin obyek indah untuk lo potret dengan setting Kota Tua itu sendiri. Percaya deh, waktu lo udah nemuin obyek yang gue maksud itu, lo bakal ngerasa Kota Tua adalah tempat paling indah.”
Keluarga Widjajanto adalah keluarga kalangan atas yang sangat dikenal dengan keberhasilan setiap anaknya dalam segala bentuk bidang artistik yang mereka geluti. Pak Anton Widjajanto, ayah dari Andra sendiri adalah seniman lawas kenamaan yang namanya begitu tersohor seantero negeri. Jadi gak heran, kalau gue sebenarnya masih harus belajar banyak dari Andra yang memang basic-nya berasal dari keluarga artistik.
“Eh Ndi, gue tinggal lo sebentar ya? Kayaknya nyokap manggil gue tuh di sana.” Andra menepuk pundak gue pelan. “Have fun, ok?” gue pun mengangguk pelan, membiarkan sosok Andra menghilang begitu saja di balik kerumunan manusia lalu lalang yang semuanya asing buat gue.
Di tengah sesaknya kerumunan itu, gue seakan ikut membaur dengan banyaknya manusia yang hadir malam itu. Kolega-kolega Keluarga Widjajanto itu semuanya berpakaian rapi layaknya artis papan atas yang datang ke sebuah perhelatan agung. Dan gue rasa memang hanya gue aja yang mengenakan polo shirt putih polos gue, juga celana jeans kesayangan yang udah entah berapa lama belum gue laundry, dan tidak lupa Converse butut yang gak pernah sampai hati gue buang sampai saat ini. Inilah gue, Andi Supriyo, seorang introvert yang lebih suka menghabiskan waktu gue dalam kesendirian, bukan dalam keramaian seperti malam ini.
Namun kemudian pandangan ini tertuju pada seseorang di atas stage sana. Seseorang berperawakan ramping, dengan pakaian boho nya yang membuat dirinya seperti pusat perhatian, juga flower crown yang ia kenakan di kepalanya. Perempuan itu—dengan atraktifnya—menyanyikan lagu The 1975 yang Sex. Wow, gue rasa ekspresi gue memang berlebihan, tapi entah kenapa gue ngerasa cewe ini salah tempat. Salah tempat untuk menyanyikan lagu ini. Salah tempat juga dalam berpakaian. This is definitely not Coachella, girl. Itulah satu-satunya hal yang terlintas di otak gue saat itu. But man, I’ll admit she has this rare kind of beauty.
Semua hadirin yang datang bertepuk tangan saat perempuan itu telah usai bernyanyi, membungkukkan tubuhnya memberi hormat terima kasih kemudian kembali mendekatkan microphone itu ke depan mulutnya dan berkata, “Happy New Year, guys!” Dan semudah itulah, setelahnya ia turun dari panggung digantikan oleh rekannya sesama penyanyi yang lain. Dan entah mengapa, sebegitu mudah pula tubuh ini menyeret gue untuk menemui perempuan itu.
“Hei!” ucap gue dengan awkward-nya saat perempuan hippie itu tengah menenggak sebotol air mineralnya. “Gue Andi.”
Really, Ndi? Selama itukah lo udah gak bersosialisasi sama orang sampai harus segitu bodohnya?
Dalam hati, gue menampar diri keras-keras karena kebodohan gue dalam memilih kata-kata. Namun perempuan itu dengan sumringahnya membalas ucapan gue dengan senyum dan berkata, “Hai, Andi! Aku Kallista.”
And that happened. I swear to God, that just happened.